Wednesday, 16 September 2015

Sekelumit Riwayat Hidup Gus Dur

BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang Masalah
Keluarga Abdurrahman "Addakhil". Demikian nama lengkapnya secara leksikal. "addakhil" berarti "Sang Penakluk", sebuah nama yang diambil dari ayahnya (Wakhid Hasyim). Belakangan kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid" menjadi Abdurrahman Wahid dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak Kyai yang berarti "Abang" aatu "Mas".
Gus Dura tau Abdurrahman Wahid adalah putra pertama dari enam bersaudara di Dennanyar, Jombang, Jawa Timur. Pada tanggal 07 september 1940, kakek dari ayahnya adalah KH. Hasyim 'Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdlotul Ulama' (NU) dan pendiri pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Tentang riwayat hidup Gus Dur, belum semua masyarakat di Indonesia mengenalnya. Maka dari itu penulis berkenan untuk menjelaskan riwayat hidup Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid).
B.            Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang diatas kami merumuskan pokok permasalahan, yaitu:
1.      Bagaimana riwayat hidup Gus Dur ?
2.      Apa saja penghargaan-penghargaan yang diperoleh Gus Dur ?
C.            Tujuan Penulisan
1.      Untuk memenuhi persyaratan pengambilan raport.
2.      Untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian nasional di Mts Walisongo Sidowangi.
3.      Untuk mengetahui riwayat hidup Gus Dur serta penghargaan-penghargaan yang diperolehnya.
4.      Untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis dan pembaca.
D.           Metode Pengumpulan Data
1.      Observasi.
Dengan cara penulis melakukan pengamatan secara langsung ke lokasi makam Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) di Jombang, Jawa Timur.
2.      Studi pustaka.
Penelitian dengan mencari data-data lewat buku-buku dan sumber tertulis yang berhubungan dengan permasalahan.
E.            Manfaat Penulisan.
Adapun manfaat dari penulisan karya tulis ini adalah :
1.      Menambah pengetahuan dan wawasan kepada pembaca dan penulis.
2.      Mengenal lebih mendalam riwayat Gus Dur dan penghargaan yang diperolehnya.
F.             Sistematika Penulisan
Sitematika karya tulis ini dapat meliputi tiga bab yaitu sebagai berikut :
Bab I meliputi :
latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode pengumpulan data, manfaat penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II meliputi :
Riwayat hidup Gus Dur dan penghargaan-penghargaan yang diperolehnya.
Bab III berisi :
Kesimpulan dan saran.
Daftar Pustaka.
BAB II
PEMBAHASAN
A.           Riwayat Hidup Gus Dur.
KH. Abdurrahman Wahid akrab dipanggil Gus Dur, (lahir di Jombang, Jawa Timur, 07 sepetember 1940, meninggal di Jakarta, 30 desember 2009, pada umur 68 tahun). Beliau adalah tokoh muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi presiden Indonesia yang ke empat dari tahun 1999 hingga 2001. Beliau menggantikan presiden BJ. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahan dibantu oleh kebinet persatuan nasional. Masa keprisedenan Abdurrahman Wahid dimulai tahun 1999 dan berakhir pada siding istimewa MPR pada tahun 2001. Kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Sukarno Putri setelah mandatnya dicabut oleh MPR. Gus Dur adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlotul Ulama' dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Beliau lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Beliau lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti "Sang Penakluk". Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid" dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak Kyai yang berarti "Abang" atau "Mas". Beliau adalah putra pertama dari enam bersaudara. Kakek dari ayahnya adalah KH. Hasyim 'Asy'ari, pendiri Nahdlotul Ulama'  (NU), sementara kakek dari ibunya adalah KH. Bisri Syamsuri, pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan.
Beliau secara terbuka pernah menyatakan bahwa Ia memiliki darah Tionghoa. Beliau mengaku bahwa beliau adalah keturunan dari Tan Kim dan menikah dengan Tan A Lok saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa) pendiri kesultanan Demak.
Pada tahun 1944 beliau pindah dari Jombang ke Jakarta tempat ayahnya terpilih menjadi ketua pertama Partai Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Pada tahun 1963, beliau menerima beasiswa dari Kementerian Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar di Kairo Mesir. Beliau menikah dengan Sinta Nuriyah adan dikarunia empat anak. Alissa Qotrunnada, Zanuba Arifah Chofshoh (Yenny), Annita Hayatunnufus dan Inayyah Wulandari.
Beliau menderita banyak penyakit, sejak beliau mulai menjabat sebagai presiden. Beliau menderita ganguan penglihatan. Beberapa kali Ia mengalami serangan stroke, diabetes dan gangguan ginjal juga dideritanya. Beliau meninggal dunia pada hari rabu, 30 desember 2009, di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit tersebut, yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat beliau harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin. Menurut Salahudin Wahid, adik beliau wafat akibat sumbatan pada arteri.
Awalnya ketika Fuad Bawazir dan Nur Mahmudi dating ke Langitan Tuban menghadap para Kyai sepuh minta merestui pencalonan Gus Dur menjadi Presiden, para Kyai bersikap curiga, waspada dan belum dapat menerima permintaan itu, demikian pula ketika Amin Rais dkk, dating ke Pesantren Buntet.
Para kyai tersebut pada dasarnya ingin Gus Dur king maker, bukan malah menjadi king (raja) itu sendiri. Tetapi karena situasi nasional sudah sangat gawat, maka pada tanggal 19 oktober 1999, kurang dari 24 jam sebelum pemilihan presiden, rapat PBNU plus mengambil keputusan "terpaksa merelakan Gus Dur menjadi presiden, karena situasi sangat gawat". Habibie, Amin Rais, Hamzah Haz dan lain-lain, tidak ada yang berani menjadi calon presiden. Justru Megawati berani tampil sebagai pesaing Gus Dur.
Menurut istilah Clifford Geertz, beliau tergolong santri dan priyayi sekaligus. Gus Dur, baik dari trah ayah maupun Ibu adalah sosok yang menempati Strata Sosial tinggi dalam masyarakat Indonesia. Beliau adalah cucu dari dua ulama terkemuka NU dan tokoh besar bangsa Indonesia. Lebih dari itu Gus Dur adalah keturunan Brawijaya IV (Lembu Peteng) lewat dua jalur, yaknin Kyai Ageng Tarub I dan Joko Tingkir. Meskipun demikian, perjalanan kehidupan Gus Dur tidak mencerinkan kehidupan seorang ningrat. Dia berproses dan hidup sebagaimana layaknya masyarakat pada umumnya.
B.            Penghargaan-penghargaan yang di Peroleh Gus Dur.
Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Roman Mangsaysay Award, sebuah penghargaan yang cukup pretisius untuk kategori Community Leadhership.
Pada tanggal 10 maret 2004, beliau mendapat penghargaan dari Simon Wisenthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia.
Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru.
Beliau juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Choir Of Islamic Study.
Pada tanggal 21 Juli 2010 meskipun telah wafat beliau memperoleh life time Achievement Award dalam liputan 6 Award 2010. Penghargaan ini diserahkan langsung kepada Sinta Nuriyah, Istri Gus Dur.
Pada tanggal 11 Agustus 2006, Gadis Avivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-Aji sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006.
Gus Dur juga banyak memperoleh gelar Doktor Kehormatan  (Doktor Honoris Causa) dari lembaga Pendidikan :
- Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkaok Thailand. (2001).
- Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Managemen dan Ilmu Humaniora dan Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Perancis Tahun 2000.
- Doktor kehormatan dari Universitas Chulangkorn, Bangkok, Thailand (2000).
PICT0110.jpgg3.jpeg- Dan masih banyak lagi yang lainya.





BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan
Dari uraian diatas penulis menyimpulkan sebagai berikut :
1.      Abdurrahman "Addakhil" nama lengkapnya secara leksikal. Tapi nama "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid" menjadi Abdurrahman Wahid dan lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur.
2.      Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 07 September 1940, wafat 30 Desember 2009.
3.      Gus Dur menjadi presiden Indonesia yang ke empat.
4.      Kakek Gus Dur bernama KH. Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdlotul Ulama(NU) dan mendirikan Pesantren Tebuireng, di Jombang, Jawa Timur).
   
B.            Saran
1.      Saya berharap pembaca dapat mengetahui dan mengenal lebih dalam riwayat hidup dan penghargaan-penghargaan yang diperolehnya.
2.      Saya berharap pembaca bisa memahaminya dan tidak kecewa, terimakasih.




DAFTAR PUSTAKA

Muzadi, Abdul Muchith.2006. "NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran". Surabaya : Khalista.
Amroji dan Nur Zahid.2009. "Ke-NU-an SMP/MTs Kelas VII". Semarang : Pimpinan Wilayah Lembaga Pedidikan Ma'arif NU.

www.gusdur.net

No comments:

Post a Comment