Sunday, 20 September 2015

NU Struktural NU Kultural


NU Struktural VS NU Kultural
Nu Struktural VS NU Kultural atau NU Jamaah VS NU Jam’iyah adalah judul yang saya pilih dalam artikel ini, bukan bermaksud NU Struktural dan NU kultural itu adalah musuh atau lawan itu tidak, namun disini saya melihat bahwa antara NU Kultural dan NU Struktural itu adalah dua pasangan yang serasi dan keduanya harus selalu bersinergi, karena kedua-duanya adalah merupakan kekuatan, tanpa salah satunya maka akan rapuh dan mudah sekali cerai berai dan rusak oleh pengaruh beberapa lawan NU.
NU struktural adalah jam’iyah atau organisasi nahdlotul ulama sebagai motor atau penggerak jalannya sebuah organisasi, sebuah organisasi dinyatakan sebagai sebuah organisasi yang eksis apabila mempunyai ruh dan jihad untuk mewujudkan cita-cita yang tinggi yang telah disepakati bersama. Nah mengenai tujuan NU ini pada umumnya masyarakat tidak tahu apa tujuan daripada NU tersebut bukan merupakan suatu hal yang mustahil karena, pertama dangkalnya pengetahuan terhadap NU itu sendiri, mungkin belum pernah mendapatkan ilmu tentang Aswaja dan NU, kedua tidak mudah mendapatkan pengetahuan dan ilmu tentang NU ini, ketiga waktu dahulu sekolah tidak mendapatkan pelajaran ke-NU-an, sehinga sangat wajar sekali kalau kemudian seseorang diajak bergerak untuk menghidup-hidupkan itu menjadi sebuah kesulitan, bahkan mungkin seseorang mendapatkan undangan dengan cop surat tertulis Nahdlotul Ulama maka menjadi bertanya-tanya.
NU Kultural atau NU Jamaah adalah kelompok atau golongan yang mendapat warisan NU dari orang tuanya dari masyarakat atau dari ajaran orang-orang terdahulu, lebih mudahnya NU Jamaah adalah orang atau kelompok orang yang mewarisi dan mengamalkan tradisi-tradisi ajaran ahlussunnah wal jama’ah.
Nah NU semacam ini yang sedang berkembang di masyarakat, jadi masyarakat dan orang-orang banyak yang tidak tahu dasar-dasar ajaran tersebut akan tetapi tetap teguh mengamalkan tradisi dan ajaran-ajaran nahdlotul ulama. Kurang paham terhadap NU dan Pemahaman semacam ini semacam ini  yang barangkali menjadi PR bersama dalam meningkatkan Jam’iyah Nahdlotul Ulama.   

Saturday, 19 September 2015

Dampak Perbedaan Aliran/Paham di Masyarakat



DAMPAK PERBEDAAN ALIRAN/PAHAM DI MASYARAKAT
Dampak perbedaan paham/aliran keagamaan di masyarakat sangat terasa sekali terutama kehidupan di masyarakat desa atau kampong, dimana masyarakat banyak dan sering berkumpul sehingga sangat terasa sekali terjadinya perubahan-perubahan yang negative.
Disini saya menyampaikan bahwa ditengah kehidupan masyarakat yang sudah semakin kompleks ini dimanapun berada sangat memungkinkan sekali akan terjadinya perbedaan dan perubahan jaman, mungkin juga sudah merupakan tuntutan sehingga seseorang dalam hal ini pemahaman keagamaan seseorang harus mendalam tidak sekedar ikut-ikutan dan warisan nenek moyang dahulu atau warisan bapak dan ibu kita dalam mendidik, artinya apa sudah disampaikan, dicontohkan oleh bapak atau ibu kita tersebut harus disertai dasar pengalaman dan paham keagamaan yang mendalam sehingga tidak menimbulkan keraguan dan kebimbangan dimasyarakat.
Dampak terjadinya perbedaan paham dimasyarakat bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, dimana pada awalnya masyarakat itu mempunyai pemahaman yang satu akan tetapi setelah mengalami dan menemui berbagai perbedaan-perbedaan entah melalui media atau perantara secara langsung dari pengalaman-pengalaman seseorang yang sudah tahu, yang kalau kita sebutkan diantara perbedaan pemahaman yang ada dimasyarakat sebagai contoh perkembangnya aliran MTA, maraknya paham wahabiyah di Indonesia, darul hadits, dan lain-lain yang mereka semuanya ingin menampakkan eksistensinya sehingga semakin jelas terjadinya perbedaan tersebut.
Pertama orang yang berbeda paham sangat mudah sekali tersinggung, kedua semakin renggang tali persaudaraan, ketiga terjadinya saling curiga antara satu dengan lainya, keempat semakin tidak harmonis dalam kehidupan masyarakat, kelima  terjadinya kelompok-kelompok yang kelompok-kelompok tersebut sedikit demi sedikit semakin menjauhkannya dalam kehidupan. Semakin parahnya terjadinya perbedaan paham tersebut sehingga semakin mudah terjadinya disintegrasi bangsa.       
Perbedaan paham adalah perbedaan pemikiran seseorang yang terjadi dimasyarakat berdampak kepada semakin rapuhnya ideology bangsa dan Negara Indonesia. Dan juga semakin sedikit menipisnya  pemahaman terhadap ideology bangsa dan Negara Indonesia, hal ini karena dimasyarakat tidak ada pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman tentang Ideologi Pancasila. Jadi pemahaman mereka terhadap ideology hanya pemahaman dan pengalaman serta pengetahuan yang telah ia dapatkan dibangku sekolah jaman dahulu.
Maka dari itu disinilah pentingnya semakin meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang aliran/paham yang sudah dimiliki seseorang bagi masyarakat, agar tidak terjadi dispemahaman atau pemahaman yang keliru. Demikianlah beberapa efek dan dampak perbedaan pemahaman yang dapat saya sampaikan semoga bisa menjadi tambahan bacaan dan pemahaman bagi masyarakat.

Selamat Ulang Tahun Maarif yang ke 56

Diusianya yang ke 56 adalah merupakan usia yang sudah lanjut, keberadaan Ma'arif di dunia pendidikan telah mengisi kekosongan arah masa depan bangsa di tengah hiruk pikuknya peradaban pendidikan yang saling bersaing antara satu dengan yang lain dengan menampilkan jatidiri dan ciri khas masing-masing.
Ma'arif merupakan wadah pendidikan bagi warga Nahdliyin yang mempunyai afiliasi yang berbeda dengan lainya. khususnya warga Nahdliyin yang notabene berada di wilayah pinggiran, yang orang tua merasa kesulitan menyekolahkan anak-anaknya.
Bukan berarti bahwa sekolah di Ma'arif ada sekolah pinggiran tidak, akan tetapi kontribusi Ma'arif di dunia pendidikan cukup berarti dan bahkan kita lihat perkembangan pendidikan di masa modern ini juga mulai menggeliat memperlihatkan eksistensinya.  
Dilihat dari pergerakan perkembangan kemajuanya ma'arif telah mampu bersaing dengan sekolah-sekolah yang lain, baik dengan saudara kandungnya yaitu Muhammadiyah maupun dengan sekolah-sekolah negeri, belum lagi sekolah yang tidak mengatasnamakan ma'arif akan tetapi berafiliasi dengan Nahdlotul Ulama' maka sangat memungkin akan kebersaingnya kembali di dunia pendidikan.
Oleh karena itu tidaklah perlu kita rendah diri melihat eksistensi kehidupan pendidikan ma'arif sekarang ini, tentunya kebersaingan didunia pendidikan dengan saingan yang sehat dan sportif, tidak lupa kami sebagai guru di Ma'arif ikut bangga telah menorehkan hasil yang cukup signifikan dan ikut mengucapkan selamat dirgahayu Ma'arif ke 56 semoga tetap jaya.

Wednesday, 16 September 2015

Kulit Pisang bertuliskan nama orang yang mau makan


Kejadian aneh dimana kulit pisang tidak sengaja bertuliskan nama seseorang, ini merupakan kenyataan yang luar biasa, kejadian ini terjadi ketika tidak sengaja seorang ibu akan mensuapi anaknya yang masih kecil berumur kurang lebih 2 tahun.
Kejadian ini kulit pisang bertuliskan nama orang terjadi di Dusun Gejiwan Desa Krasak Kecamatan Salaman Magelang.
Pada saat liburan lebaran tahun 1436 H ketika anak sedang berkumpul di rumah bersama dengan ayahnya.
Menyaksikan hal tersebut sang ayah langsung terkagum-kagum kenapa bisa ada nama seseorang berada di kulit pisang.

Bahagia bagi K2 hari ini diberitakan di Suara Merdeka

Hari ini suara merdeka memberitakan tentang Tenaga Honorer khusnya K2 yang telah menanti pemberitaanya namun belum kunjung jelas keberadaanya.
Kabar gembira tersebut bukan hanya mereka yang sudah bekarja sebagai guru akan tetapi mereka yang telah lama mengabdi di Madrasah yang berada dibawah naungan Kementerian Agama ikut bahagia karena paling tidak ikut juga punya harapan kedepan yang lebih jelas.
Bahagia itu setelah menunggu cukup lama dan sekarang mendapat angin segara dari pemerintah agar kedepan para tenaga honorer dan guru-guru di Madrasah ikut diperhatikan pemerintah..

Sekelumit Riwayat Hidup Gus Dur

BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang Masalah
Keluarga Abdurrahman "Addakhil". Demikian nama lengkapnya secara leksikal. "addakhil" berarti "Sang Penakluk", sebuah nama yang diambil dari ayahnya (Wakhid Hasyim). Belakangan kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid" menjadi Abdurrahman Wahid dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak Kyai yang berarti "Abang" aatu "Mas".
Gus Dura tau Abdurrahman Wahid adalah putra pertama dari enam bersaudara di Dennanyar, Jombang, Jawa Timur. Pada tanggal 07 september 1940, kakek dari ayahnya adalah KH. Hasyim 'Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdlotul Ulama' (NU) dan pendiri pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Tentang riwayat hidup Gus Dur, belum semua masyarakat di Indonesia mengenalnya. Maka dari itu penulis berkenan untuk menjelaskan riwayat hidup Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid).
B.            Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang diatas kami merumuskan pokok permasalahan, yaitu:
1.      Bagaimana riwayat hidup Gus Dur ?
2.      Apa saja penghargaan-penghargaan yang diperoleh Gus Dur ?
C.            Tujuan Penulisan
1.      Untuk memenuhi persyaratan pengambilan raport.
2.      Untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian nasional di Mts Walisongo Sidowangi.
3.      Untuk mengetahui riwayat hidup Gus Dur serta penghargaan-penghargaan yang diperolehnya.
4.      Untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis dan pembaca.
D.           Metode Pengumpulan Data
1.      Observasi.
Dengan cara penulis melakukan pengamatan secara langsung ke lokasi makam Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) di Jombang, Jawa Timur.
2.      Studi pustaka.
Penelitian dengan mencari data-data lewat buku-buku dan sumber tertulis yang berhubungan dengan permasalahan.
E.            Manfaat Penulisan.
Adapun manfaat dari penulisan karya tulis ini adalah :
1.      Menambah pengetahuan dan wawasan kepada pembaca dan penulis.
2.      Mengenal lebih mendalam riwayat Gus Dur dan penghargaan yang diperolehnya.
F.             Sistematika Penulisan
Sitematika karya tulis ini dapat meliputi tiga bab yaitu sebagai berikut :
Bab I meliputi :
latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode pengumpulan data, manfaat penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II meliputi :
Riwayat hidup Gus Dur dan penghargaan-penghargaan yang diperolehnya.
Bab III berisi :
Kesimpulan dan saran.
Daftar Pustaka.
BAB II
PEMBAHASAN
A.           Riwayat Hidup Gus Dur.
KH. Abdurrahman Wahid akrab dipanggil Gus Dur, (lahir di Jombang, Jawa Timur, 07 sepetember 1940, meninggal di Jakarta, 30 desember 2009, pada umur 68 tahun). Beliau adalah tokoh muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi presiden Indonesia yang ke empat dari tahun 1999 hingga 2001. Beliau menggantikan presiden BJ. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahan dibantu oleh kebinet persatuan nasional. Masa keprisedenan Abdurrahman Wahid dimulai tahun 1999 dan berakhir pada siding istimewa MPR pada tahun 2001. Kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Sukarno Putri setelah mandatnya dicabut oleh MPR. Gus Dur adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlotul Ulama' dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Beliau lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Beliau lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti "Sang Penakluk". Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid" dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak Kyai yang berarti "Abang" atau "Mas". Beliau adalah putra pertama dari enam bersaudara. Kakek dari ayahnya adalah KH. Hasyim 'Asy'ari, pendiri Nahdlotul Ulama'  (NU), sementara kakek dari ibunya adalah KH. Bisri Syamsuri, pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan.
Beliau secara terbuka pernah menyatakan bahwa Ia memiliki darah Tionghoa. Beliau mengaku bahwa beliau adalah keturunan dari Tan Kim dan menikah dengan Tan A Lok saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa) pendiri kesultanan Demak.
Pada tahun 1944 beliau pindah dari Jombang ke Jakarta tempat ayahnya terpilih menjadi ketua pertama Partai Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Pada tahun 1963, beliau menerima beasiswa dari Kementerian Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar di Kairo Mesir. Beliau menikah dengan Sinta Nuriyah adan dikarunia empat anak. Alissa Qotrunnada, Zanuba Arifah Chofshoh (Yenny), Annita Hayatunnufus dan Inayyah Wulandari.
Beliau menderita banyak penyakit, sejak beliau mulai menjabat sebagai presiden. Beliau menderita ganguan penglihatan. Beberapa kali Ia mengalami serangan stroke, diabetes dan gangguan ginjal juga dideritanya. Beliau meninggal dunia pada hari rabu, 30 desember 2009, di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit tersebut, yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat beliau harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin. Menurut Salahudin Wahid, adik beliau wafat akibat sumbatan pada arteri.
Awalnya ketika Fuad Bawazir dan Nur Mahmudi dating ke Langitan Tuban menghadap para Kyai sepuh minta merestui pencalonan Gus Dur menjadi Presiden, para Kyai bersikap curiga, waspada dan belum dapat menerima permintaan itu, demikian pula ketika Amin Rais dkk, dating ke Pesantren Buntet.
Para kyai tersebut pada dasarnya ingin Gus Dur king maker, bukan malah menjadi king (raja) itu sendiri. Tetapi karena situasi nasional sudah sangat gawat, maka pada tanggal 19 oktober 1999, kurang dari 24 jam sebelum pemilihan presiden, rapat PBNU plus mengambil keputusan "terpaksa merelakan Gus Dur menjadi presiden, karena situasi sangat gawat". Habibie, Amin Rais, Hamzah Haz dan lain-lain, tidak ada yang berani menjadi calon presiden. Justru Megawati berani tampil sebagai pesaing Gus Dur.
Menurut istilah Clifford Geertz, beliau tergolong santri dan priyayi sekaligus. Gus Dur, baik dari trah ayah maupun Ibu adalah sosok yang menempati Strata Sosial tinggi dalam masyarakat Indonesia. Beliau adalah cucu dari dua ulama terkemuka NU dan tokoh besar bangsa Indonesia. Lebih dari itu Gus Dur adalah keturunan Brawijaya IV (Lembu Peteng) lewat dua jalur, yaknin Kyai Ageng Tarub I dan Joko Tingkir. Meskipun demikian, perjalanan kehidupan Gus Dur tidak mencerinkan kehidupan seorang ningrat. Dia berproses dan hidup sebagaimana layaknya masyarakat pada umumnya.
B.            Penghargaan-penghargaan yang di Peroleh Gus Dur.
Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Roman Mangsaysay Award, sebuah penghargaan yang cukup pretisius untuk kategori Community Leadhership.
Pada tanggal 10 maret 2004, beliau mendapat penghargaan dari Simon Wisenthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia.
Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru.
Beliau juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Choir Of Islamic Study.
Pada tanggal 21 Juli 2010 meskipun telah wafat beliau memperoleh life time Achievement Award dalam liputan 6 Award 2010. Penghargaan ini diserahkan langsung kepada Sinta Nuriyah, Istri Gus Dur.
Pada tanggal 11 Agustus 2006, Gadis Avivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-Aji sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006.
Gus Dur juga banyak memperoleh gelar Doktor Kehormatan  (Doktor Honoris Causa) dari lembaga Pendidikan :
- Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkaok Thailand. (2001).
- Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Managemen dan Ilmu Humaniora dan Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Perancis Tahun 2000.
- Doktor kehormatan dari Universitas Chulangkorn, Bangkok, Thailand (2000).
PICT0110.jpgg3.jpeg- Dan masih banyak lagi yang lainya.





BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan
Dari uraian diatas penulis menyimpulkan sebagai berikut :
1.      Abdurrahman "Addakhil" nama lengkapnya secara leksikal. Tapi nama "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid" menjadi Abdurrahman Wahid dan lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur.
2.      Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 07 September 1940, wafat 30 Desember 2009.
3.      Gus Dur menjadi presiden Indonesia yang ke empat.
4.      Kakek Gus Dur bernama KH. Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdlotul Ulama(NU) dan mendirikan Pesantren Tebuireng, di Jombang, Jawa Timur).
   
B.            Saran
1.      Saya berharap pembaca dapat mengetahui dan mengenal lebih dalam riwayat hidup dan penghargaan-penghargaan yang diperolehnya.
2.      Saya berharap pembaca bisa memahaminya dan tidak kecewa, terimakasih.




DAFTAR PUSTAKA

Muzadi, Abdul Muchith.2006. "NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran". Surabaya : Khalista.
Amroji dan Nur Zahid.2009. "Ke-NU-an SMP/MTs Kelas VII". Semarang : Pimpinan Wilayah Lembaga Pedidikan Ma'arif NU.

www.gusdur.net

Memahami Kebutuhan Siswa

Memahami kebutuhan siswa
Siswa berangkat ke sekolah bukan sekedar belajar, tapi disamping itu siswa pergi ke sekolah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, diantaranya kebutuhan biologis terdiri dari makan, minum, istirahat, tidur, buang air kecil atau buang air besar (bab), kebutuhan pendidikan atau belajar itu sendiri, kebutuhan mengembangkan potensi diri dan prestasi serta kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa. Selian itu diantra kebutuhan siswa adlaha kebutuhan akan kasih saying dan diakui posisinya atau keberadaanya sebagai seorang anak didik atau siswa,
Jika sekolah mau maju maka sekolah tersebut harus mampu mengatur antara kebutuhan-kebutuhan tersebut sehingga anak akan berkembang secara maksimal baik potensi lahir maupun potensi mental yang dimiliki. 
Guru harus memahami beberapa kebutuhan-kebutuhan siuswa tersebut dengan tidak melupakan kebutuhan yang lebih penting yaitu belajar. Kebutuhan siswa sangat kompleks dalam belajar oleh karena itu sekolah harus bisa memberikan akses dan mengakomodasi dari beberapa kebutuhan-kebutuhan siswa tersebut.
Sekolah adalah tempat berlindung, tempat bermain, tempat bersosialilsasi dengan teman-temanya sebaya baik laki-laki maupun perempuan,
Guru mempunyai kewajiban mengawasi atas kegiatan-kegiatan siswa tersebut dengan sambil mengarahkanya ke hal-hal yang lebih baik sehingga anak dikemudian hari menjadi anak yang dewasa utuh dan menjadi diri sendiri serta bertanggung jawab, bukankah tujuan belajar dan pendidikan kepada siswa dan siswi untuk hal tersebut ?.
Pendidikan dimasa modern sekarang ini akan lebih kompleks dengan melihat kenyataan-kenyayaan bahwa kebutuhan anak sekarang juga sudah semakin kompleks seperti itu. Anak membutuhkan apa yang dicarinya itu ketemu sehingga dalam proses pencarian jati diri tersebut, anak betul-betul menemukan jati dirinya dengan sempurna, hal yang penting disini adalah peran dan pengarahan baik dari dari orang tua, guru, wali siswa, wali kelas, guru BP/BK, guru pembimbing dan semua yang terlibat didalam pendidikan harus ikut campur tangan denga  keadaan siswa tersebut.
Pendidikan yang mampu menampung seperti ini adalah pondok pesantren yang dikelola secara integral antara pendidikan umum dan pendidikan agama, dimana guru-gurunya juga dari lulusan pondok-pesantren itu.

Friday, 11 September 2015

Sejarah Berdirinya NU

BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang Masalah
Penyusunan karya tulis ini dibuat untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk mengikuti UAN/UAS di MTs Walisongo Sidowangi Kajoran Magelang tahun pelajaran 2013/2014.
Karya tulis ini berisi tentang sejarah berdirinya NU adalah organisasi yang didirikan oleh tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian jamiyah Nahdlotul Ulama (NU) yaitu Kyai Wahab Hasbullah (Surabaya asal Jombang), kyai Hasyim Asy'ari (Jombang) dan Kyai Cholil (Bangkalan). Mujammil Qomar, penulis buku "NU Liberal : dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam". Melukiskan peran ketiganya sebagai berikut Kia Wahab sebagai pencetus ide, Kyai Hasyim, Kyai Cholil dan tokoh-tokoh ulama lainya dalam proses berdirinya Nahdlotul Ulama.
B.            Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis mencoba untuk merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam karya tulis ini.
1.      Bagaimana Sejarah Berdirinya NU di Indonesia ?
2.      Apa saja usaha-usaha yang dilakukan oleh KH. Hasyim Asy'ari dalam mengembangkan NU di Indonesia ?
C.            Tujuan Penulisan.
Setiap penulis tentu tidak lepas dari tujuan yang diharapkan. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam menulis karya tulis ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Sebagai salah satu syarat pengambilan raportkenaikan kelas tahun 2013.
2.      Sebagai salah satu syarat mengikuti UNAS/USEK.
3.      Mengajak masyarakat agar lebih mengenal tentang sejarah berdirinya NU dan Usaha-usaha yang dilakukan KH. Hasyim Asy'ari dalam mengembangkan Organisasi NU di Indonesia.
D.           Metode Pengumpulan Data.
Sebelum menganalisa permasalahan dan menyajikanya dalam karya tulis. Penulis terlebih dahulu mengumpulkan data-data dengan cara :
1.      Observasi.
Yaitu cara pengumpulan data secara langsung dengan suatu objek permasalahan yang akan diteliti.
2.      Studi pustaka.
Yaitu cara kerja dengan mencari data-data lewat buku-buku dan suumber tertulis yang berhubungan dengan permasalahan.
E.            Manfaat Penulisan
Semoga dengan karya tulis ini masyarakat lebih mengenal tentang sejarah berdirinya NU dan usaha KH. Hasyim Asy'ari dalam mengembangkan organisasi NU di Indonesia dan semoga masyarakat lebih mengenal dan memahaminya. Dan siswa-siswi dapat lebih banyak mengetahui tentang sejarah berdirinya NU dan usaha KH. Hasyim Asy'ari dalam mengembangkan organisasi NU di Indonesia.
F.             Sistematika Penulisan
Sitematika karya tulis ini dapat meliputi 3 bab yaitu : Bab I Pendahuluan meliputi : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode pengumpulan data, manfaat penulisan dan sistematika penulisan. Bab II Pembahasan meliputi : asal-usul sunan Bonang, bijak dalam berdakwah, karya sastra, kuburanya ada dua.
Bab III berisi : Kesimpulan dan saran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.           Sejarah Berdirinya NU.
Ada tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab Chasbullah (Surabaya asal Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan Kiai Cholil (Bangkalan). Mujammil Qomar, penulis buku “NU Liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam”, melukiskan peran ketiganya sebagai berikut Kiai Wahab sebagai pencetus ide, Kiai Hasyim sebagai pemegang kunci, dan Kiai Cholil sebagai penentu berdirinya.
Keresahan Kiai Hasyim
Bermula dari keresahan batin yang melanda Kiai Hasyim. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.
Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh ulama pesantren yag sangat berpengaruh di Jawa Timur.
Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah, hati Kiai Hasyim resah. Gelagat inilah yang nampaknya “dibaca” oleh Kiai Cholil Bangkalan yang terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (mukasyafah). Dari jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan hati yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung cucunya sendiri.

Tongkat “Musa”

“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik, Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat itu.
“Setelah membeerikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut kepada Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat Thaha ayat 17-23.
Allah berfirman: ”Apakah itu yang di tangan kananmu, hai musa? Berkatalah Musa : ‘ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya’.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat”, Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.”
Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai Cholil memberikan dua keeping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos ke Jombang. Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya erat-erat.
Meski sudah dibekali uang, namun As’ad memilih berjalan kaki ke Jombang. Dua keeping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia simpan di sakunya sebagai kenagn-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil itu teramat berharga untuk dibelanjakan.
Sesampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim. Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad merupakan utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan Kiai Hasyim, As’ad segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad seraya menyerahkan tongkat.
Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan penuh perasaan. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa masih ada pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!” jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.
Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak keberatan apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk mendirikan Jamiyyah. Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah terus dimatangkan. Meski merasa sudah mendapat lampu hijau dari Kiai Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta mewujudkan niatnya untuk mendirikan jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah dengan para kiai lainnya, terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan.
Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera berangkat ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab segeraa menuju kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai Wahab langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Kiai Wahab yang menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai Nawawie tidak serta merta pula langsung mendukungnya, melainkan memberikan pesan untuk berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri itu supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak pakai uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai Nawawi.
Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat sampai dengan perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah rupanya berjalan cukup lama. Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, maskih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam.
Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.
Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang. Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).
Setelah para ulama sepakat mendirikan jamiyyah yang diberi nama NU, Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Nashir untuk membuat lambangnya. Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan menghadap Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya. “Gambar ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh Kiai Hasyim diminta membuat gambar lambang NU. Setelah saya buat gambarnya, Kiai Hasyim meminta saya untuk sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih lanjut,” papar Kiai Ridhwan seraya menyerahkan gambarnya.
Setelah memandang gambar lambang NU secara seksama, Kiai Nawawie memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar bumi dan sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.” Selain itu, Kiai Nawawie jug a meminta supaya tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie.
“Barangsiapa mengaku dirinya sebagai wali tetapi tanpa kesaksian mengikuti syariat Rasulullah SAW, orang tersebut adalah pendusta yang membuat perkara tentang Allah SWT.”
Lebih tegas beliau menyatakan:
“Orang yang mengaku dirinya wali Allah SWT, orang tersebut bukanlah wali yang sesungguhnya melainkan hanya wali-walian yang jelas salah sebab dia mengatakan sir al-khushusiyyah (rahasia-rahasia khusus) dan dia membuat kedustaan atas Allah Ta’ala.”
Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan “Kebangkitan Nasional”. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana – setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan.
Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan “Nahdlatul Fikri” (kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
Berangkan komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar.
Untuk menegaskan prisip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasyim Asy’ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.
B.            Usaha KH. Hasyim Asy'ari dalam mengembangkan Organisasi NU di Indonesia.
1.      Dibidang Agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dan persaudaraan.
2.      Dibidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membantuk muslim yang bertaqwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas. Hal ini terbukni dengan lahirnya lembaga-lembaga pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbegai daerah khususnya di pulau Jawa.
3.      Dibidang Sosial Budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.
4.      Dibidang ekonomi, mengusahakan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat. Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan badan keuangan lain yang telah terbukti membantu masyarakat.
5.      Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyarakat.
C.            Biografi KH. Hasyim Asy'ari
Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan KH Hasyim Ashari memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan Kyai Cholil.
KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo. Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi di Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kyai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal. Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi..
Pendiri Nahdlotul Ulama
Tahun 1924, kelompok diskusi Taswirul Afkar ingin mengembangkan sayapnya dengan mendirikan sebuah organisasi yang ruang lingkupnya lebih besar. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang dimintai persetujuannya, meminta waktu untuk mengerjakan salat istikharah, menohon petunjuk dari Allah. Dinanti-nanti sekian lama, petunjuk itu belum datang juga. Kyai Hasyim sangat gelisah. Dalam hati kecilnya ingin berjumpa dengan gurunya, KH Kholil bin Abdul Latif, Bangkalan. Sementara nun jauh di Bangkalan sana, Kyai Khalil telah mengetahui apa yang dialami Kyai Hasyim. Kyai Kholil lalu mengutus salah satu orang santrinya yang bernama As’ad Syamsul Arifin (kelak menjadi pengasuh PP Salafiyah Syafiiyah Situbondo), untuk menyampaikan sebuah tasbih kepada Kyai Hasyim di Tebuireng. Pemuda As’ad juga dipesani agar setiba di Tebuireng membacakan surat Thaha ayat 23 kepada Kyai Hasyim.
Struktur NU
1.      Pengurus Besar (tingkat Pusat)
2.      Pengurus Wilayah (tingkat Propinsi)
3.      Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota)
4.      Majelis Wakil Cabang (tingkat Kecamatan)
5.      Pengurus Ranting (tingkat Desa/Kelurahan)
Untuk tingkat Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, setiap kepengurusan terdiri dari:
1.      Mustasyar (Penasehat)
2.      Syuriah (Pimpinan Tertinggi)
3.      Tanfidziyah (Pelaksana Harian)
Untuk tingkat Ranting, setiap kepengurusan terdiri dari:
1.      Syuriaah (Pimpinan tertinggi)
2.      Tanfidziyah (Pelaksana harian)




BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan
1.      Nahdlotul Ulama adalah sebuah organisasi masa Islam yang terbesar di Indonesia dan didirkan oleh tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyah Nahdlotul Ulama' (NU) yaitu Kyai Wahab Hasbullah (Surabaya asal Jombang) Kyai Hasyim Asy'ari (Jombang) dan Kyai Cholil (Bangkalan).
2.      Usaha Kyai Hasyim Asy'ari dalam mengembangkan organisasi NU di Indonesia meliputi : Bidang Agama, Pendidikan Sosial Budaya, ekonomi, dan mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

B.            Saran
1.      Sebaiknya masyarakat Indonesia lebih mengenal dan mencari tentang masalah NU dan mencari tentang pendiri NU dan mencontoh prilaku dan mengamalkan ajaranya supaya menambah iman kita semua.
2.      Dan kami membuat karya tulis ini untuk diletakkan diperpustakaan agar dipelajari oleh adik kelas VII dan kelas VIII.



DAFTAR PUSTAKA

Amrozi dan Nur Zahid, 2009, "Ke-NU-an" , Semarang : Pimpinan Wilayah Lembaga Pedidikan Ma'arif NU.
As'ad Mahrus, dkk. 2009. Ayo Mengenal Sejarah Kebudayaan Islam untuk MTs /SMP Islam Kelas IX. Jakarta : Erlangga.