Sunday, 23 August 2015

Mengantarkan Kesuksesan Anak

Anak sejak awal lahir sudah mempunyai kelebihan-kelebihan khusus yang tidak dipunyai oleh anak yang lainya. Hal ini yang kemudian orang tua disuruh untuk mengarahkan, membimbing, dan mengantarka anak tersebut menjadi anak yang berprestasi dan berbudi pekerti luhur.
Apa sih, kesuksesan itu ? Orang Jawa bilang, Tidurlah yang senyenyak-nyenyaknya, makanlah senikmat-nikmatnya. Pengertian/kalimat ini mengandung pengertian bahwa tidurlah senyenyak-nyenyaknya artinya "jangan tidur sebelum kantuk, karena tidur sebelum ngantuk itu menghasilkan tidur yang tidak optimal, tapi jika tidur itu sudah menjadi kebutuhan tubuh manusia untuk istirahat maka istirahatlah yang baik. "makanlah senikmat-nikmatnya mengandung pengertian bahwa orang sebelum lapar jangan makan, karena makan setelah kenyang tidak akan menghasilkan kenikmatan makan yang baik. Orang-orang jaman dahulu men-jarang-kan makan, alias banyak puasa. sehingga orang-orang jaman dahulu banyak yang sehat baik secara jasmani dan rohani. Eeee jadi nglantur kemana-mana.
Sebetulnya sukses itu kebutuhan anak atau kewajiban dari orang tua to ? Anak belum tahu apa yang akan dikerjakan untuk masa depanya, oleh karena itu kewajiban orang tua dan guru untuk mengarahkan membimbing dan mendidiknya sehingga menjadi manusia yang utuh. Sukses dijadikan kebutuhan bagi si anak sehingga dalam melaksanakan tugasnya anak tidak sekedar bermain-main terus.
Tugas orang tua untuk mendidik tersebut dari awal dia lahir sampai dewasa bahkan sampai mati. Oleh karena itu mendidik dengan cara agama adalah merupakan jawaban yang paling tepat, artinya anak harus mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan agama.  

Friday, 21 August 2015

Makna kemerdekaan bagi seorang Guru

Memaknai kemerdekaan dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan yang sudah berusia 70 tahun bagi seorang guru mungkin masih sangat jauh untuk dikatakan sebagai sebuah kemerdekaan.
Makna merdeka dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah bebas (dr perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri, 2 tidak terkena atau lepas dr tuntutan, 3 tidak terikat, tidak bergantung kpd orang atau pihak tertentu; leluasa, mungkin yang paling tepat untuk makna kata merdeka adalah bebas dari perhambaan, penjajahan, tekanan yang memungkin seseorang menjadi tidak bebas untuk berbuat sesuatu. 
Disini guru dalam pembahasan ini mungkin masih bisa dikatakan bebas atau merdeka menurut KBBI tapi dalam kenyatanya, guru belum mempunyai kemerdekaan yang berarti adil dalam menyampaikan tugas dan kewajiban dan mendapatkan hak dan imbalan yang sesuai dengan jerih payahnya karena kenyataanya sampai sekarang ini guru masih dianak tirikan pemerintah.
Guru mempunyai tugas dan kewajiban yang sangat berat yaitu mengajar, mendidik, membimbing, mengarahkan, dan melatih siswa atau anak didik sehingga anak tersebut menjadi siswa yang mempunyai pengetahuan yang luas, siswa mempunyai akhlak dan budi pekerti yang baik, dan akhirnya menjadi manusia yang utuh dan berkemampuan sesuai dengan prestasinya masing-masing.
Banyak sekali guru pada masa sekarang ini justru menjadi obyek perubahan gaya barat dan materialistik yang tanpa kejelasan visi dan misinya, tidak menjadi agen of change dalam pendidkan. contoh hal yang mudah kita temukan dalam kehidupan disekolah guru disekolah tentengannya Android setiap saat buka status komen status dan lain sebagainya.
Guru sampai pada usia kemerdekaan ke 70 masih hidup dalam ketidak sejahteraan dan hidup kurang layak jika dibandingkan dengan orang berwira swasta. inilah kenyataan yang dirasakan pahit oleh seorang guru. Guru belum merdeka meskipun sudah bermur 70 tahun karena antara yang dia berikan/ditunaikan dengan apa yang dia dapatkan tidak seimbang, bentuk ketidak adilan inilah yang menjadikan makna kemerdekaan.

Menyikapi Pemberlakuan lima hari masuk

Pemberlakuan lima hari sekolah masih perlu dikaji ulang, beberapa alasan yang menjadi suatu yang sangat urgen yang tidak boleh kita abaikan, pertama, lima hari kerja masuk mulai jam 07.00 sampai dengan jam 16.00 tidak tepat bagi siswa-siswi yang sekolah di daerah pelosok desa, karena angkudes hanya sampai jam  15.00 kalau toh ada angkudes tersebut langsung pulang sehingga banyak yang tidak sampai ke tujuan rumah masing-masing siswa tersebut. kedua bagi guru yang mengajar dari pagi sampai sore tentu terjadi capek yang sangat luar biasa terutama bagi sekolah-sekolah swasta yang mempunyai sarana dan prasarana yang minim.  Ketiga, efektifitas belajar siswa hanya mampu sampai jam 13.00 atau sampai 14.00 setelah itu siswa yang diajar tentu juga lelah dan sudah tidak bisa konsentrasi terhadap pelajaran. Keempat, berkurangnya waktu belajar agama yang biasanya diadakan di Madrasah-madrasah Diniyah atau di Kyai-Kyai kampung yang waktunya sore hari. Kelima, setelah siswa kecapekan tentu malamnya sudah tidak bisa belajar lagi, sehingga tinggal istirahat dan tidur. Keenam, perberlakuan lima hari masuk sekolah hanya menguntungkan segelintir orang terutama para Guru PNS yang dituntut pulang sampai jam 15.00 yang juga tidak mau repot-repot lagi datang pada hari sabtunya karena mendapatkan libur lebih banyak. demikian beberapa alasan kenapa aturan lima hari masuk sekolah perlu di tinjau ulang.

Monday, 17 August 2015

Kumpulan Karya Tulis MTs/SMP


SEJARAH GOA TABUHAN DI KABUPATEN PACITAN

DISUSUN UNTUK MEMENUHI PERSYARATAN MENGIKUTI  ULANGAN KENAIKAN KELAS DAN UJIAN NASIONAL  DI MTS WALISONGO SIDOWANGI

logo ma'.jpg
Disusun Oleh :
Ahmad Mubarok
LEMBAGA PENDIDIKAN MA'ARIF NU
MTS WALISONGO SIDOWANGI KAJORAN
2011/2012
HALAMAN PENGESAHAN

Karya tulis yang berjudul Mengenal Sejarah Ditemukanya Goa Tabuhan  ini telah disetujui dan disahkan oleh Guru dan Pembimbing, Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dan Kepala Madrasah MTs Walisongo Sidowangi, Pada :
Hari                             : ........................
Tanggal                       : ........................

Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia                                              Guru Pembimbing

Nursangidah, S.S                                                                                Emi Sriwahyuni, S.P
Kepala Madrasah
MTs Walisongo Sidowangi


M. Machfuzi, S.Ip
NIP : 150416873



KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta kesehatan. Sehingga kami dapat menulis karya tulis ini dengan lancar.
Solawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW.
Karya tulis ini dibuat sebagai salah satu syarat mengikuti UAN/UAM tahun 2012/2013 di Mts Walisongo Sidowangi Kajoran.
Kami ucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan karya tulis ini.
Kami berharap semoga karya tulis ini dapat berguna bagi orang-orang disekitar kami.


Sidowangi, ...Juli  2012
Penulis



DAFTAR   ISI
Halaman Judul ...............................................................................................            i
Halaman Persembahan ..................................................................................             ii
Kata Pengantar ..............................................................................................            iii
Daftar Isi .......................................................................................................             iv
Bab   I             PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah .................................................             1
B.     Rumusan Masalah ..........................................................              1
C.     Tujuan Penulisan ............................................................              1
D.    Metode Pengumpulan Data ............................................             2
E.     Manfaat Penulisan ..........................................................             2
F.      Sistematika Penulisan ....................................................              2
Bab   II            PEMBAHASAN
A.    Legenda Banteng  Wareng ..............................................                        3
B.     Keindahan Goa Tabuhan ........................................... ....             3
Bab  III           PENUTUP
A.    Kesimpulan  ....................................................................             5
B.     Saran ...............................................................................             5
Daftar Pustaka ...............................................................................................                        6

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Penyusunan karya tulis ini dibuat untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk mengikuti UAN/UAS di Mts Walisongo Sidowangi Kajoran Magelang tahun pelajaran 2011/2012.
Karya tulis ini berisi tentang sejarah Goa Tabuhan. Goa Tabuhan adalah Goa Fosil yang mempunyai lorong berarah barat timur sepanjang 105 m. Dua ruangan di dalam Goa berakhir pada lubang-lubang kecil yang tertutup tanah sedimen goa tersebut mengandung lapisan-lapisan tipis berwarna putih.
Goa Tabuhan adalah sebuah gejala karst bawah permukaan yang penuh makna. Penemu Goa Tabuhan mBah Santiko pada tahun penemuan pertama : 1822.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas penulis mencoba untuk merumuskan permasalahan  yang  akan dibahas dalam karya tulis ini. 
1.      Bagaimana legenda banteng Wareng ?
2.      Apa saja keindahan didalam Goa Tabuhan ?

C.     Tujuan Penulisan
Setiap penulisan tetu tidak lepas dari tujuan yang diharapkan. Adapun tujuan  yang hendak dicapai dalam penulisan karya tulis ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 
1.      Sebagai salah satu syarat pengambilan raport kenaikan kelas tahun 2012.
2.      Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti UN di Mts Walisongo Sidowangi Tahun  Pelajaran 2012/2013.
3.      Mengajak masyarakat agar lebih mengenal Goa Tabuhan.
D.    Metode Pengumpulan data
Sebelum menganalisis permasalahan dan menyajikanya dalam karya tulis, penulis terlebih dahulu mengumpulakn data-data dengan cara :
1.                   Observasi
Observasi yaitu cara penelitian dengan cara mengamati secara langsung kepada suatu obyek yang akan diteliti. 
2.                   Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan adalah cara penelitian dengan cara mencari data lewat buku-buku dan sumber tertulis yang berhubungan dengan permasalahan.
E.     Manfaat Penulisan
Semoga dengan karya tulis ini masyarakat lebih mengenal tentang goa tabuhan dan semoga masyarakat melestarikan keindahan dan budaya yang ada di Goa Tabuhan. Dan siswa-siswi dapat lebih banyak mengetahui tentang Goa Tabuhan.
F.      Sistematika Penulisan   
Karya tulis ini kami buat berdasarkan sebagai berikut;
Bab I Pendahuluan meliputi, Latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode  pengumpulan data, dan sistematika penulisan.
Bab II Pembahasan meliputi : Legenda Banteng Wareng keindahan Goa Tabuhan.
Bab III Penutup meliputi : Kesimpulan dan saran.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Legenda Banteng Wareng
Tersebut dalam sebuah abad Kyai Ageng Jenggareng pada suatu hari sedang mengadakan babad alas di suatu wilayah yang sekarang di kenal sebagai Desa Widara masuk wilayah kecamatan Donorejo Kabupaten Pacitan Jawa Timur.
Alkisah pada saat itu ditengah hutan yang dibabadnya ditemukan seorang anak laki-laki yang bernama "Si Banteng Wareng", anak kecil itu dipelihara dengan baik dan setelah dewasa terkuak tabir rahasianya bahwa sebenarnya "Si Banteng Wareng" itu adalah keturunan dari "Sri Sultan Yogyakarta" yang pertama dari seorang selirnya yang meninggal di Widara pada waktu perjuangan melawan "Sunan Suarkarta" yang saat itu dibawah pengaruh Kompeni.
Si Banteng Wareng setelah dewasa dia mampu meyakinkan ayahandanya di Yogyakarta sebagai keturunan daerah Yogyakarta sebagai keturunan darah biru. Maka kepadanya diberikan kekuasaan untuk membuka daerah sebelah barat Sungai Sundeng di Pacitan.    
Waktu berputar sejarah beredar, maka pada tahun 1825 pecahlah perang Diponegoro, kembali raden Banteng Wareng menunjukkan jiwa kepahlawanannya menentang kompeni bersama prajurit Diponegoro yang terdesak lari  menyingkir kearah selatan ke sarangnya Mas Banteng Wareng di Goa Tabuhan.
B.     Keindahan Goa Tabuhan.
Salah satu keunikan dari Goa Tabuhan adalah akar batu stalakmit dan stalaktit yang apa bila dipukul bisa menimbulkan bunyi  atau nada yang begitu indah dan berirama mirip suatu gamelan jawa, maka Goa ini disebut Goa Tabuhan.
Stalaktit  dan stalakmit itu sendiri adalah,  stalakmit kerucut-kerucut batu kapur yang bergantung  pada atap-atap goa. Stalakmit adalah kerucut-kerucut batuan kapur yang berdiri  pada dasar goa.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Mungkin sekali pada jaman-jaman sebelumnya hanya sayangnya tidak diperoleh sumber-sumber informasi yang konkret (sebelum babad Wareng).
2.      Salah satu keunikan dalam Goa Tabuhan adalah akar batu stalakmit dan batu stalaktit yang apabila dipukul akan menimbulkan bunyi atau nada yang indah dan berirama.
B.     Saran
1.         Sebaiknya masyarakat Indonesia lebih melestarikan kebudayaan dan goa-goa yang ada di daerah kita seperti Goa Tabuhan. Karena sekarang hampir kebudayaan-kebudayaan di Indonesia diakui oleh Negara lain.
2.         Dan kami membuat karya tulis ini untuk diletakkan diperpustakaan agar dapat dipelajari oleh adik kelas VII dan kelas VIII.




DAFTAR PUSTAKA

Soetoyo, Goa Tabuhan Obyek Wisata Potensial di kabupaten Pacitan.
Herimanto, Titik Surarsi, 2008. "IPS terpadu Kelas VII", Surakarta : Mediatama.
          
    



Friday, 14 August 2015

Mujahadah selama ditinggal haji dan pulang Haji


MUJAHADAH SELAMA DITINGGAL HAJI
1.     SURAT AL FATIHAH (TAWASUL)
A.    Kanjeng Nabi
B.    Syeh Abdul Qodir Jaelani
C.    Walisongo
2.     SHALAWAT NARIYAH 41 X
اللهم صل صلاة كاملة, وسلم سلاما تاما على سيد نا محمد الذيتنحل به العقد, وتنفرج به الكرب,  وتقضى به الحوائج, وتنال به الرغائب, وحسن الخواتم, ويستسقى الغمام بوجهه الكريم, وعلى اله وصحبه في كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك, يارب العالمين.    
3.     SHALAWAT TUNJINA 41 X
اللهم صل على سيدنا محمد صلاة تنجينا بها من جميع الاهوال والآ فات, وتقضى لنا بها جميع الحاجات, وتطهرنا بها من جميع السيئات, وترفعنا بها أعلى الدرجات, وتبلغنا بها أقصى الغايات, من جميع الخيرات, في الحياة وبعد الممات, انك على كل شيئ قدير.   
4.     BACAAN HAULAH 100 X
لاحول ولاقوة الا بالله
Diikuti dengan
اللهم ياالله بحولك وقوتك ياعلي يا عظيم قوه على أداء مناسكه مع حجه مبرورا وسعيه مشكورا وذنبه مغفورا ونفقته سريعة بالخلف.
5.     AL FATIHAH & DO’A
أللهم تقبل حجه واغفر له ذنبه واخلف نفته, اللهم سلمه واجفظه وأمنه وعافه وصححه.  اللهم أره مناسكه وتب عليه واعنه على أدئها مع الكمال والتمام واجعله من الراشدين برحمتك ياأرحم الراحمين ... الفاتحه.

اللهم تقبل حجه واغفرله ذنبه واخلف نفقته , اللهم سلمه واحفظه وامنه وعافه وصححه, اللهم أره مناسكه وتب عليه وأعنه على أدائها مع الكمال
6.     DO’A



Do’a Pulang Haji
الحمد لله رب العالمين اللهم صل وسلم علي سيدنا محمد وعلى أل سيدنا محمد. اللهم حبب الينا ألاءيمان وزينه في قلوبنا وكره ألينا الكفر والفسوق والعصيان واجعلنا من الراشدين. اللهم اجعل حجنا حجا مبرورا و سعينا سعيا مشكورا وذنبنا ذنبا مغفورا وعملنا عملا صالحا مقبولا وتجارتنا تجارة لن تبور. ياعالم مافي الصدور أخرجنا ياألله من الظلمات الى النور. أللهم أنا نسئا لك رضاك والجنة ونعيمها وما يقربنا اليها من قول وفعل وعمل ونعوذ بك من النار وما يقربنا اليها من قول وفعل وعمل.
اللهم بلغنا مكة المكرمة والمدينة المنورة لآداء الحج والعمرة وزيارة قبر نبيك محمد صلى الله عليه وسلم. بلطف ويسر وعافية وسلامة وبلوغ المرام برحمتك ياأرحم الراحمين.  

Tuesday, 11 August 2015

Tantangan Pendidikan Islam Di Era Globalisasi


MAKALAH
TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBALISASI




stainu cap.JPG




Disusun Oleh :
Ahmad Mubarok    NIM : 09130274


FAKULTAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLOTUL ULAMA
PURWOREJO
2011
TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBALISASI
A.    Pendahuluan
Teknologi modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas negara, menerobos berbagai pelosok perkampungan di pedesaan dan menyelusup di gang-gang sempit di perkotaan, melalui media audio (radio) dan audio visual (televisi, internet, dan lain-lain). Fenomena modern yang terjadi di awal milenium ketiga ini popular dengan sebutan globalisasi.
Sebagai akibatnya, media ini, khususnya televisi, dapat dijadikan alat yang sangat ampuh di tangan sekelompok orang atau golongan untuk menanamkan atau, sebaliknya, merusak nilai-nilai moral, untuk mempengaruhi atau mengontrol pola fikir seseorang oleh mereka yang mempunyai kekuasaan terhadap media tersebut. Persoalan sebenarnya terletak pada mereka yang menguasai komunikasi global tersebut memiliki perbedaan perspektif yang ekstrim dengan Islam dalam memberikan criteria nilai-nilai moral; antara nilai baik dan buruk, antara kebenaran sejati dan yang artifisial.
Di sisi lain era kontemporer identik dengan era sains dan teknologi, yang pengembangannya tidak terlepas dari studi kritis dan riset yang tidak kenal henti. Dengan semangat yang tak pernah padam ini para saintis telah memberikan kontribusi yang besar kepada keseejahteraan umat manusia di samping kepada sains itu sendiri. Hal ini sesuai dengan identifikasi para saintis sebagai pecinta kebenaran dan pencarian untuk kebaikan seluruh umat manusia. Akan tetapi, sekali lagi, dengan perbedaan perspektif terhadap nilai-nilai etika dan moralitas agama, jargon saintis sebagai pencari kebenaran tampaknya perlu dipertanyakan.
B. Pendidikan Islam di Era Globalisasi
Era Globalisasi identik dengan era sains dan teknologi, yang pengembangannya tidak terlepas dari studi kritis dan riset-riset yang tidak kenal lelah. Di pusat riset Porton Down di Inggris para saintis memakai binatang-binatang yang masih hidup untuk menguji coba baju anti peluru. Hewan-hewan tersebut dimasukkan ke dalam troli yang kemudian diledakkan. Pada awalnya, monyet yang dipakai dalam berbagai eksperimen tetapi para saintis kemudian menggantinya dengan babi. Binatang-binatang tersebut ditembak persis di atas mata untuk meneliti efek daripada misil berkecepatan tinggi pada jaringan otak.
Di Amerika Serikat, di akhir tahun 40-an, anak-anak remaja diberi sarapan yang dicampuri radioaktif, ibu-ibu setengah baya disuntik dengan plutonium radioaktif dan biji kemaluan para tahanan disuntik radiasi “ semua atas nama sains, kemajuan dan keamanan. Eksperimen-eksperimen ini diadakan sejak tahun 1940-an sampai 1970-an (Brown, 1994).
Selama tahun 1950-an, 60-an dan 70-an, menurut New York Times, wajib bagi seluruh mahasiswa baru, laki-laki dan perempuan, di Harvard, Yale dan universitas-universitas elit lain di Amerika, difoto telanjang untuk sebuah proyek besar yang didisain dalam rangka untuk menunjukkan bahwa tubuh seseorang yang diukur dan dianalisa, dapat bercerita banyak tentang intelegensia, watak, nilai moral dan kemungkinan pencapaiannya di masa depan. Ide ini berasal dari pendiri Darwinisime Sosial, Francis Galton, yang mengajukan foto-foto arsip tersebut untuk dewan kependudukan Inggris. Sejak awal tujuan dari pemotretan-pemotretan ini adalah egenetika. Data-data yang terakumulasi akan dipakai sebagai proposal untuk mengontrol dan membatasi produksi organisme dari orang-orang yang inferior dan tidak berguna. Beberapa organisme tipe terakhir ini akan dikenakan sangsi bila melakukan reproduksi atau akan disteril (Rosenbaum, 1995).
Sementara itu media televisi, sebagai hasil pencapaian teknologi modern yang paling luas jangkauannya memiliki dampak sosio-psikologis sangat kuat pada pemirsanya. Beberapa hasil studi berhasil menguak hubungan antara menonton televisi dengan sikap agresif (Huismon & Eron, 1986; Wiegman, Kuttschreuter & Baarda, 1992), dengan sikap anti social (Hagell & Newburn, 1996), dengan sikap aktifitas santai (Selnon & Reynolds, 1984), dengan kecenderungan gaya hidup (Henry & Patrick, 1977), dengan sikap rasial (Zeckerman, Singer &Singer, 1980), kecenderungan atas preferensi seksual (Silverman “ Watkins & Sprafkin, 1983), kesadaran akan daya tarik seksual (Tan, 1979), stereotype peran seksual (Durkin, 1985), dengan bunuh diri (Gould & Shaffer, 1986), identifikasi diri dengan karakter-karakter di televisi (Shaheen, 1983).
Hasil-hasil studi yang lain tentang dampak-dampak televisi menunjukkan indikasi yang cenderung agak menggembirakan. Seperti adanya kesadaran akan segala peristiwa yang terjadi di seluruh dunia (Cairn, 1990), kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara (Conway, Steven & Smith, 1975), bertambhanya pengetahuan akan geografi (Earl & Pasternack, 1991), meningkatnya pengetahuan tentang masalah politik (Furnham & Gunter, 1983), bersikap pro social (Gunter, 1984).
Tetapi perlu dicatat bahwa sejak munculnyaera televisi dibarengi dengan timbulnya berpuluh-puluh channel dengan menawarkan berbagai acara-acara yang menarik dan bervariasi, umat Islam hanya berperan sebagai konsumen, orang Barat-lah (baca, non-Muslim) yang memegang kendali semua teknologi modern tak terkecuali televisi. Dari sini beberapa permasalahan, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan Islam, mencuat ke permukaan. Pertama, apa langkah yang harus ditempuh oleh setiap Muslim, orang tua dan para pendidik, dalam upaya mengantisipasi dan merespon sejak dini gejala-gejala distorsi moral yang adiakibatkan oleh media televisi, internet dan media-media audio visual lainnya?
Kedua, bahwa Barat merupakan satu-satunya pemegang peran kunci dari seluruh media berita baik media cetak, maupun media elektronik. Seperti dimaklumi pemberitaan-pemberitaan tersebut banyak mengandung bias, khususnya bila ada kaitan langsung atau tidak langsung dengan dunia Islam. Ketiga, sains dan teknologi menjadi dominasi khusus dunia Barat (Young, 1077), dengan demikian setiap Muslim yang berminat mendalami bidang-bidang ini harus mengikuti term-term yang ditentukan oleh Barat, yang tidak jarang bertentangan dengan nilai-nilai Islami. Sehingga dalam beberapa kasus sering terjadi para saintis Muslim, secara sadar atau tidak, tercerabut dari akar-akar keislaman, dan menjadi pembela fanatik Barat.
Dalam tulisan berikut konsep pendidikan Islam yang ditawarkan meliputi dua tahap, jangka pendek dan jangka panjang. Yang pertama melibatkan pertisipasi setiap individu Muslim, sedang yang kedua mencakup keterlibatan institusi, lembaga dan bahkan negara.
C. Diversifikasi Konsep Pendidikan Islam
Ahmed (1990) mendefinisikan pendidikan sebagai suatu usaha yang dilakukan individu-individu dan masyarakat untuk mentransmisikan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan dan bentuk-bentuk ideal kehidupan mereka kepada generasi muda untuk membantu mereka dalam meneruskan aktifitas kehidupan secara efektif dan berhasil.
Khan (1986) mendefinisikan maksud dan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut:
a. Memberikan pengajaran Al-Quran sebagai langkah pertama pendidikan.
b. Menanamkan pengertian-pengertian berdasarkan pada ajaran-ajaran fundamental Islam yang terwujud dalam Al-Quran dan Sunnah dan bahwa ajaran-ajaran ini bersifat abadi.
c. Memberikan pengertian-pengertian dalam bentuk pengetahuan dan skill dengan pemahaman yang jelas bahwa hal-hal tersebut dapat berubah sesuai dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat.
d. Menanamkan pemahaman bahwa ilmu pengetahuan tanpa basis Iman dan Islam adalah pendidikan yang tidak utuh dan pincang.
e. Menciptakan generasi muda yang memiliki kekuatan baik dalam keimanan maupun dalam ilmu pengetahuan.
f. Mengembangkan manusia Islami yang berkualitas tinggi yang diakui secara universal.
Pendekatan pendidikan Islam yang diajukan oleh kedua pakar pendidikan di atas tersimpul dalam First World Conference on Muslim Education yang diadakan di Makkah pada tahun 1977.
Tujuan daripada pendidikan (Islam) adalah menciptakan . manusia yang baik dan bertakwa yang menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktifitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan.
Oleh karena itu jelaslah bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Islam di sini bukanlah dalam arti pendidikan ilmu-ilmu agama Islam yang pada gilirannya mengarah pada lembaga-lembaga pendidikan Islam semacam madrasah, pesantren atau UIN (dulu IAIN).1 Akan tetapi yang dimaksud dengan pendidikan Islam di sini adalah menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap Muslim terlepas dari disiplin ilmu apapun yang akan dikaji. Sehingga diharapkan akan bermunculan œanak-anak muda enerjik yang berotak Jerman dan berhati Makkah seperti yang sering dikatakan oleh mantan Presiden B.J. Habibie. Kata-kata senada dan lebih komprehensif diungkapkan oleh Al-Faruqi (1987) pendiri International Institute of Islamic Thought, Amerika Serikat, dalam upayanya mengislamkan ilmu pengetahuan. Sengaja saya kutip menurut teks aslinya untuk tidak mengurangi semangan universalitas Islam yang terkandung di dalamnya:
Islamization does not mean subordination of any body of knowledge to dogmatic principles or arbitrary objectives, but liberation f rom such shackles. Islam regards all knowledge as critical; i.e., as universal, necessary and rational. It wants to see every claims pass through the tests of internal coherence correspondence with reality, and enhancement of human life and morality. Consequently, the Islamized discipline which we hope to reach in the future will turn a new page in the history of the human spirit, and bring it clear to the truth.
Di sini perlu ditekankan bahwa konsep pendidikan dalam Islam adalah long life education atau dalam bahasa Hadits Nabi sejak dari pangkuan ibu sampai ke liang lahat (from the cradle to the grave). Itu berarti pada tahap-tahap awal, khususnya sebelum memasuki bangku sekolah, perang orang tua terutama ibu amatlah krusial dan menentukan mengingat pada usia balita inilah pendidik, dalam hal ini orang tua, memegang peran penting di dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak. Sayangnya orang tua bukanlah satu-satunya pendidik di rumah, ada pendidik lain yang kadang-kadang peranannya justru lebih dominan dari orang tua yang di Barat disebut dengan idiot box atau televisi. Dampak lebih jauh televisi terhadap perkembangan anak balita seperti yang dikatakan Hiesberger (1981) bisa mengarah pada dominant voice in our lives dan a major agent of socialization in the lives of our children (menjadi suara dominan dalam kehidupan kita dan agen utama proses sosialisasi dalam kehidupan anak-anak kita).
Tentu saja peran orang tua tidak berhenti sampai di sini, keterlibatan orang tua juga diperlukan pada fase-fase berikutnya ketika anak mulai memasuki usia sekolah, baik SD, SMP, maupun SMU. Menjelang mas pubertas yakni pada usia antara dua belas sampai delapan belas tahun anak menjalani episode yang sangat kritis di mana sukses atau gagalnya karir masa depan anak sangat tergantung pada periode ini. Robert Havinghurst, pakar psikolog Amerika, menyebutkan periode ini sebagai “developmental task atau proses perkembangn anak menuju usia dewasa.
Apabila kita kaitkan periode developmental task ini pada aspek budaya kehidupan anak-anak Muslim, khususnya mereka yang tinggal di negara-negara non-Muslim atau di negara Islam tapi di kota-kota besar, dapat dibayangkan situasi yang mereka hadapi. Mereka tidak pernah atau jarang melihat sikap positif terhadap Islam, baik dalam keluarga, di sekolah maupun di masyarakat. Dalam situasi seperti ini tentu merupakan tanggung jawab orang tua untuk menanamkan nilai0nilai moral, barbagi pengalaman kehidupan Islami yang pada gilirannya nanti akan mengarah pada internalisasi misi Al-Qur’an dan Sunnah. Peran orang tua seperti ini akan sangat membantu anak dalam memasuki kehidupan yang fungsional sebagai Muslim yang dewasa dan sebagai anggota yang aktif dalam komunitas Islam. Apabila anak menampakkan tanda-tanda sikap yang negatif terhadap Islam yang disebabkan oleh pengaruh dari sekolah atau masyarakat atau karena kecerobohan dan kelengahan orang tua, maka hal ini akan mengakibatkan penolakan anak terhadap hidup Islami dan akan gagal berintegrasi dengan komunitas Islam.
Oleh karena itu adalah tugas orang tua, khususnya dan utamnya, untuk mengatur strategi yangtepat dalam rangka membantu proses pembentukan pribadi anak khususnya dalam periode developmental task tersebut.. Dalam hal ini orang tua haruslah memiliki wawasan pengetahuan yang luas serta dasar pengetahuan agama yang mencukupi untuk menghindari kesalahan strategi dalam mendidik anak. Kedua, mengalokasikan waktu yang cukup untuk memberikan kesempatan bagi anak berinteraksi serta meresapi sikap-sikap Islami yang ditunjukkan oleh orang tua dalam perilaku kesehariannya. Persoalannya adalah secara factual tidak semua orang dapat memenuhi criteria-kriteria di atas yang disebabkan oleh hal-hal sebagai beriktu: (a) Orang tua, terutama ibu, tidak memiliki wawasan pengetahuan yang mempuni, khususnya di bidang pegagodi anak dan nilai-nilai dasar Islami. Dalam situasi semacam ini orang tua perlu mengambil langkah-langkah beriktu sebagai upaya mengantra anak menuju pintu gerbang masa depan yang cerah, sehat dan agamis.
Pertama, mendatangkan guru privat agama pada waktu usia anak di abwah dua belas tahun untuk mengajarkan nilai-nilai dasa Islam, termasuk cara membaca Al-Quran dan Hadits. Pada usia tiga belas tahun sampai dengan delapan belas tahun kandungan makna Al-Quran dan Hadits mulai diajarkan dengan metode yang praktis, sistematis dan komprehensif, mengingat pada periode ini anak sudah mulai disibukkan dengan pelajaran-pelajaran di sekolah. Dengan demikian diharapkan ketika memasuki bangku kuliah anak sudah memiliki gambaran yang utuh dan komprehensif tentang Islam, beserta nilai-nilai abadi yang terkandung di dalamnya. Sehingga ia tidak akan mudah menyerah terhadap tekanan-tekanan dan pengaruh-pengaruh luar yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, minimal ia akan tahu ke mana jalan untuk kembali ketika, oleh pengaruh eksternal yang terlalu kuat, ia melakukan penyimpangan-penyimpangan dari nilai-nilai Islam.
Kedua, menyekolahkan anak sejak dari SMP sampai SMU di lembaga-lembaga Islam semacam pesantren modern yang saat ini sudah banyak memiliki sekolah-sekolah umum yang berkualitas. Ketiga, memasukkan anak sejak TK sampai SMU di lembaga-lembaga pendidikan yang memakai lebel Islam, seperti yayasan Muhammadiyah, yayasan NU, yayasan al-Azahar dan lain-lain. Akan tetapi alternatif ketiga ini dalam pengamatan penulis tidak begitu efektif. Salah satu sebabnya adalah karena kurang komprehensifnya kurikulum keislaman di dalamnya. Kendatipun begitu, ini jauh lebih baik disbanding, misalnya, memasukkan anak ke sekolah-sekolah non-Muslim. Memang menyekolahkan anak ke sekolah-sekolah non-Muslim tidak berarti anak tersebut akan terkonversi ke agama lain, tetapi dampak minimal yang tak terhindarkan adalah timbulnya sikap skeptis dan apatis anak terhadap Islam.
Alhasil, semakin kuat nilai-nilai agama tertanam akan semakin kokoh resistansi anak terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari luar. Studi kasus yang diadakan oleh Francis (1997) terhadap 20.968 anak remaja dari seratus sekolah yang tersebar diInggris dan Wales, menguatkan pendapat ini.
D. Reformasi Paradigma Pendidikan
Secara faktual hampir seluruh negara-negara Islam2 baru terlepas dari belenggu penjajahan Barat di akhir abad dua puluh tepatnya sekitar 1950-an. Pada umumnya terjadinya pemindahan kekuasaan dari penjajah ke tangan pribumi menimbulkan terjadinya perubahan politik di negara-negara tersebut yang sebagai akibatnya tertundanya reformasi pendidikan yang dicita-citakan sebelumnya. Rezim kekuasaan yang baru pasca kolonialisme tidak mampu memfokuskan diri pada tugas ini. Fokus utama mereka adalah bagaimana mempertahankan kekuasaan di tengah-tengah terjadinya kekacauan politik. Oleh karena itu pegnembangan dan reformasi pendidikan menjadi terabaikan untuk beberapa waktu. Pendidikan hanya menjadi bagian dari retorika politik dan rencana-rencana pengembangan pendidikan terartikulasi tanpa adanya pencapaian yang berarti. Dewasa inipun anggaran negara yang dicangkan untuk program pendidikan di negara-negara Islam relatif sangat rendah sehingga infrastruktur pendidikan yang mutlak diperlukan tidak atau jarang tersedia. Sebagai contoh Malaysia, negara Islam yang relatif maju program pendidikannya ini, menurut UNESCO (1996) hanya mengalokasikan dana U$D 82 perkapita, sementara Indonesia sendiri cuma mengalokasikan U$D 6 perkapita.
Hal ini menimbulkan dampak-dampak yang tidak efektif, seperti pelajar yang hendak memperdalam ilmunya terpaksa harus pergi ke luar negeri yang biayanya relatif lebih mahal apalagi kalau tujuan belajarnya di negara-negara maju. Sementara kecenderungan belajar ke luar negeri ini menimbulkan persoalan tersendiri khususnya bagi mereka yang secara ekonomis kurang mampu.
Dari ribuan mahasiswa yang belajar di luar negeri - kecuali yang belajar di negara-negara maju seperti Amerika, Eropa dan Australia yang umumnya berlatar belakang ekonomi menengah ke atas - yang tersebar di Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh) dan Timur Tengah (Mesir, Jordan, Syria, Sudan, dan lain-lain) mayoritas adalah berlatar belakang ekonomi lemah (kaum santri pedesaan) yang untuk biaya studi dan menunjang kehidupan sehari-hari harus banting tulang bekerja part-time yang beraneka ragam mulai dari bekerja sebagai staf local di kedutaan-kedutaan Indonesia setempat,3 mengajar privat, berwiraswasta (seperti yang dilakukan sebagian mahasiswa Mesir dengan membuka warnet atau agen perjalanan), menjaga warnet, sampai bekerja sebagai guide jamaah haji, baik travel ONH Plus maupun jamaah haji biasa yang dikenal dengan istilah pekerja TEMUS (tenaga musim atau seasonal worker).4 Apa yang dihasilkan mereka selama kerja part-time, termasuk guide haji, umumnya sangat pas-pasan dan tidak seimbang dengan terbuangnya waktu dan tenaga yang mereka keluarkan.
Di samping itu, sudah bukan rahasia lagi bahwa di era Orde Baru pelajar mengalami banyak hambatan, khususnya untuk kuliah agama, untuk dapat belajar ke luar negeri apalagi untuk mendapatkan beasiswa. Bandingkan misalnya dengan Malaysia atau India. Para pelajarnya bukan hanya didorong untuk belajar ke luar negeri tetapi juga mendapat tawaran-tawaran beasiswa atau pinjaman-pinjaman jangka panjang yang menarik.5 Di era pasca Orba saat ini praktik-praktik mempersulit pelajar yang akan studi ke luar negeri masih saja terjadi yang dilakukan oleh berbagai pihak birokrasi yang terkait, mulai dari pengurusan paspor, permintaan rekomendasi, dan lain-lain hampir tak dapat dilakukan tanpa adanya uang pelicin di bawah meja.
Adanya amandemen konstitusi yang mengalokasikan 20% anggaran untuk pendidikan itu sudah bagus tapi langkah ini tentu saja belum cukup, masih dibutuhkan sejumlah langkah reformasi lain di bidang pendidikan termasuk di antaranya menghilangkan praktik diskriminasi pengalokasian dana antara institusi pendidikan di bawah Depdiknas dan Depag, perlunya peningkatan apresiasi kalangan birokrat terhadap pelajar dan mahasiswa dengan cara memberikan kemudahan “bukan malah mempersulit“ segala proses yang berkaitan dengan prosedur urusan pendidikan. Lembaga-lembaga Islam semacam pesantren perlu mendapatkan dukungan sepenuhnya dari pemerintah, baik moril maupun finansial, karena lembaga-lembagasemacam inilah yang berperan besar membantu program pemerintahdi dalam melestarikan nilai-nilai dan spirit Islam di satu sisi serta pemberantasan buta huruf di sisi lain, khususnya di daerah-daerah pedesaan yang notabene menjadi tempat mayoritas rakyat Indonesia.
Di lain pihak lembaga-lembaga Islam tradisional semacam pesantren, khususnya pesantren salaf perlu melepaskan diri dari blue-print lamanya dan memodernisasi system dan metede pendidikannya agar tidak tertinggal dengan perkembangan keilmuan modern yang melajubegitu pesat. Secara histories sejak awal berdirina pada sekitar abad enam belas melewati masa penjajahan, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi saa ini, pesatren salaf dikenal dengan sikapnya yang selalu menjaga jarak dengan kekuasaan (Federspiel, 1995) dan pemerintahpun enggan mendekati pesantren kecuali saat-saat menjelang PEMILU. Di Orde Reformasia ini sangat urgen adanya sikap kebersamaan antara lembaga-lembaga agama, khususnya lembaga Islam dengan pemerintah melalui pendekatan yang bersifat mutual respect (saling menghargai), mutual understanding (saling memahami) dan mutual need (saling membutuhkan) dengan tujuan yang pasti yaitu untuk semakin mendorong laju pertumbuhan pendidikan demi terciptanya jutaan pakar-pakar Iptek yang ber-imtak. Dalam hal ini sikap arogansi kekuasaan di satu pihak dan rasa inferioritas di pihak lain, mutlak harus dihapuskan.
Sementara itu sesuai dengan latar belakang dan kecenderungan yang berbeda, para ilmuwan terbagi dalam dua kategori yaitu, (a) ilmuwan agama, yakni ilmuwan yang mengadakan pengkajian khusus berbagai disiplin ilmu agama dan (b) ilmuwan umum, yakni para pakar yang mengambil spesifikasi berbagai disiplin ilmu duniawi kontemporer. Para ilmuwan umum tentunya akan menggarap lading yang sesuai dengan bidang-bidang yang menjadi keahlian mereka masing-masing sementara fungsi para ilmuwan agama di sini adalah (a) sebagai meditor antara aspirasi umat dengan para pakar iptek, (b) mengadakan hubungan yang proporsional dengan para pakar komunikasi massa dalam rangka memanfaatkan media massa, khususnya televisi dan internet, sebagai upayaunifikasi dan pengembangan umat dan (c) menyatukan paradigma para pakar iptek Muslim bahwa apa yang akan, sedang dan telah diperbuat selalu mengandung dua dimensi yaitu pengabdian kepada Allah (ibadah) dan untuk kebaikan serta rahmat seluruh umat manusia (Nawwab, 1979). Yang pada gilirannya nanti akan mengarah pada Islamisasi iptek sebagaimana yang dicita-citakan oleh Al-Faruqi di atas.
1.       Institusi-institusi semacam ini disebut lembaga pendidikan Islam dalam arti bahwa ia merupakantempat kajian ilmu-ilmu agama Islam. Asfar (1996) membagi ilmu pada dua kategori. Pertama, ilmu agama yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan agama secara langsung seperti ilmu Fiqh, ilmu Tauhid, ilmu Hadits, ilmu Tafsir dan sebagainya. Kedua, ilmu duniawi yang berarti segala disiplin ilmu umum meliputi sains, teknologi dan lainlain. Selanjutnya lembaga pendidikan Islam semacam pesantren dan lain-lain akan disebut lembaga Islam.
2.      Yang dimaksud negara Islam di sini adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Jadi tidak hanya berkonotasi pada negara-negara yang secara konstitusi berideologikan Islam. Istilah ini dipakai hampir oleh seluruh penulis Muslim ataupun no-Muslim (orientalis) yang membahas tentang Islam. Lihat, misalnya Khusro (1981).
3.       Kedutaan yang mempekerjakan mahasiswa Indonesia umumnya KBRI di Timur Tengah (Mesir, Syria, Tunisia, dll), sedangkan untuk KBRI India tampak lebih menyukai staf local yang langsung diambil dari Indonesia yang relatif kurang pengalaman, padahal banyak mahasiswa India yang berminat. Belum jelas apa sebab di balik penolakan KBRI India ini.
4.      Dulu mahasiswa Asia Selatan dan Timur Tengah cukup mengandalkan biaya hidup dan kuliah mereka dari bekerja jadi guide haji setiap tahun, umumnya jadi guide di ONH Plus. Sekarang dengan turunnya peraturan pemerintah Saudi yang hanya membolehkan haji setiap lima tahun sekali, maka rejeki dari sector ini jadi tidak bisa diharapkan lagi, dan cuma mengharapkan bekerja sebagai guide haji biasa atau TEMUS yang tidak bisa dilakukan setiap tahun karena adanya keterbatasan quota dari Departemen Agama untuk setiap negara sehingga mahasiswa harus rela bergiliran.
5.      Di Malaysia dan India prosedur untuk mendapatkan beasiswa dilakukan dan diumumkan dengan sangat transparan yang memungkinkan siapa saja yang berkualitas akan mendapatkannya tanpa kekuatiran akan dikudeta oleh pihak-pihak

D. Penutup
Gambaran solusi Islam terhadap tantangan-tantangan pendidikan di era globalisasi di atas, bagaimanapun, merupakan disain besar, yang oleh sebagian kalangn mungkin dianggap terlalu romantis. Kendatipun bukan berarti mustahil dilakukan dengan melihat beberapa fenomena paling mutakhir di berbagai dunia Islam, khususnya Indonesia meliputi (a) semakin menipisnya dikotomi antara “ meminjam istilah Clifford Geertz “ Islam Santri dan Islam Abangan, (b) semakin banyaknya pakar iptek yang berlatar belakang santri, (c) semakin tipisnya friksi yang trjadi antara berbagai organisasi Islam yang disebabkan oleh semakin tajamnya visi Islam mereka dalam awal milenium ini dan (d) terjadinya perubahan dahsyat dalam konstalasi politik di Indonesia dari demokrasi artifisial, menuju demokrasi yang relatif dapat diharapkan.
Untuk itu yang paling diperlukan guna mengimplementasikan blue-print di atas adalah visi yang jauh ke depan dan political will semua pihak yang terkait yaitu: individu-individu Muslim (termasuk orang tua), para pakar iptek dan agama, institusi-institusi pendidikan, lembaga-lembaga Islam serta pemerintah. Tanpa adanya unifikasi political will berbagai elemen di atas, umat Islam Indonesia akan tetap terbelakang. Dan bila demikian Indonesia tidak akan pernah menjadi negara maju, sebagaimana yang dikatakan oleh Sayidiman Suryohadiprojo, mantan gubernur Lemhanan (Republika, 23/09/1994).





Daftar Pustaka
Sumber Internet. Geogle. Com.