BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Keluarga
Abdurrahman "Addakhil". Demikian nama lengkapnya secara leksikal.
"addakhil" berarti "Sang Penakluk", sebuah nama yang
diambil dari ayahnya (Wakhid Hasyim). Belakangan kata "Addakhil"
tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid" menjadi Abdurrahman
Wahid dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus"
adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak Kyai yang
berarti "Abang" aatu "Mas".
Gus Dura tau
Abdurrahman Wahid adalah putra pertama dari enam bersaudara di Dennanyar,
Jombang, Jawa Timur. Pada tanggal 07 september 1940, kakek dari ayahnya adalah
KH. Hasyim 'Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdlotul Ulama' (NU) dan pendiri
pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Tentang
riwayat hidup Gus Dur, belum semua masyarakat di Indonesia mengenalnya. Maka
dari itu penulis berkenan untuk menjelaskan riwayat hidup Gus Dur (KH.
Abdurrahman Wahid).
B.
Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang diatas kami
merumuskan pokok permasalahan, yaitu:
1. Bagaimana riwayat hidup Gus Dur ?
2. Apa saja penghargaan-penghargaan yang
diperoleh Gus Dur ?
C.
Tujuan Penulisan
1. Untuk memenuhi persyaratan pengambilan
raport.
2. Untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian
nasional di Mts Walisongo Sidowangi.
3. Untuk mengetahui riwayat hidup Gus Dur
serta penghargaan-penghargaan yang diperolehnya.
4. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi
penulis dan pembaca.
D.
Metode Pengumpulan Data
1. Observasi.
Dengan cara penulis melakukan pengamatan secara langsung
ke lokasi makam Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) di Jombang, Jawa Timur.
2. Studi pustaka.
Penelitian dengan mencari data-data lewat buku-buku
dan sumber tertulis yang berhubungan dengan permasalahan.
E.
Manfaat Penulisan.
Adapun
manfaat dari penulisan karya tulis ini adalah :
1. Menambah pengetahuan dan wawasan kepada
pembaca dan penulis.
2. Mengenal lebih mendalam riwayat Gus Dur dan
penghargaan yang diperolehnya.
F.
Sistematika Penulisan
Sitematika karya tulis ini dapat meliputi tiga
bab yaitu sebagai berikut :
Bab I
meliputi :
latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penulisan, metode pengumpulan data, manfaat penulisan dan sistematika
penulisan.
Bab II
meliputi :
Riwayat hidup Gus Dur dan
penghargaan-penghargaan yang diperolehnya.
Bab III berisi :
Kesimpulan dan saran.
Daftar Pustaka.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Riwayat Hidup Gus Dur.
KH.
Abdurrahman Wahid akrab dipanggil Gus Dur, (lahir di Jombang, Jawa Timur, 07
sepetember 1940, meninggal di Jakarta, 30 desember 2009, pada umur 68 tahun).
Beliau adalah tokoh muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi presiden
Indonesia yang ke empat dari tahun 1999 hingga 2001. Beliau menggantikan
presiden BJ. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil pemilu 1999.
Penyelenggaraan pemerintahan dibantu oleh kebinet persatuan nasional. Masa
keprisedenan Abdurrahman Wahid dimulai tahun 1999 dan berakhir pada siding
istimewa MPR pada tahun 2001. Kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Sukarno
Putri setelah mandatnya dicabut oleh MPR. Gus Dur adalah mantan ketua
Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlotul Ulama' dan pendiri Partai Kebangkitan
Bangsa (PKB).
Beliau lahir
di Denanyar, Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.
Beliau lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti
"Sang Penakluk". Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan
diganti nama "Wahid" dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus
Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang
anak Kyai yang berarti "Abang" atau "Mas". Beliau adalah
putra pertama dari enam bersaudara. Kakek dari ayahnya adalah KH. Hasyim
'Asy'ari, pendiri Nahdlotul Ulama' (NU),
sementara kakek dari ibunya adalah KH. Bisri Syamsuri, pengajar pesantren
pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan.
Beliau
secara terbuka pernah menyatakan bahwa Ia memiliki darah Tionghoa. Beliau
mengaku bahwa beliau adalah keturunan dari Tan Kim dan menikah dengan Tan A Lok
saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa) pendiri kesultanan Demak.
Pada tahun
1944 beliau pindah dari Jombang ke Jakarta tempat ayahnya terpilih menjadi
ketua pertama Partai Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Pada tahun
1963, beliau menerima beasiswa dari Kementerian Agama untuk belajar di
Universitas Al Azhar di Kairo Mesir. Beliau menikah dengan Sinta Nuriyah adan
dikarunia empat anak. Alissa Qotrunnada, Zanuba Arifah Chofshoh (Yenny), Annita
Hayatunnufus dan Inayyah Wulandari.
Beliau
menderita banyak penyakit, sejak beliau mulai menjabat sebagai presiden. Beliau
menderita ganguan penglihatan. Beberapa kali Ia mengalami serangan stroke,
diabetes dan gangguan ginjal juga dideritanya. Beliau meninggal dunia pada hari
rabu, 30 desember 2009, di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul
18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit tersebut, yang dideritanya sejak
lama. Sebelum wafat beliau harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin.
Menurut Salahudin Wahid, adik beliau wafat akibat sumbatan pada arteri.
Awalnya
ketika Fuad Bawazir dan Nur Mahmudi dating ke Langitan Tuban menghadap para
Kyai sepuh minta merestui pencalonan Gus Dur menjadi Presiden, para Kyai
bersikap curiga, waspada dan belum dapat menerima permintaan itu, demikian pula
ketika Amin Rais dkk, dating ke Pesantren Buntet.
Para kyai
tersebut pada dasarnya ingin Gus Dur king maker, bukan malah menjadi king
(raja) itu sendiri. Tetapi karena situasi nasional sudah sangat gawat, maka
pada tanggal 19 oktober 1999, kurang dari 24 jam sebelum pemilihan presiden,
rapat PBNU plus mengambil keputusan "terpaksa merelakan Gus Dur menjadi
presiden, karena situasi sangat gawat". Habibie, Amin Rais, Hamzah Haz dan
lain-lain, tidak ada yang berani menjadi calon presiden. Justru Megawati berani
tampil sebagai pesaing Gus Dur.
Menurut
istilah Clifford Geertz, beliau tergolong santri dan priyayi sekaligus. Gus
Dur, baik dari trah ayah maupun Ibu adalah sosok yang menempati Strata Sosial
tinggi dalam masyarakat Indonesia. Beliau adalah cucu dari dua ulama terkemuka
NU dan tokoh besar bangsa Indonesia. Lebih dari itu Gus Dur adalah keturunan
Brawijaya IV (Lembu Peteng) lewat dua jalur, yaknin Kyai Ageng Tarub I dan Joko
Tingkir. Meskipun demikian, perjalanan kehidupan Gus Dur tidak mencerinkan kehidupan
seorang ningrat. Dia berproses dan hidup sebagaimana layaknya masyarakat pada
umumnya.
B.
Penghargaan-penghargaan yang di Peroleh Gus Dur.
Pada tahun
1993, Gus Dur menerima Roman Mangsaysay Award, sebuah penghargaan yang cukup
pretisius untuk kategori Community Leadhership.
Pada tanggal
10 maret 2004, beliau mendapat penghargaan dari Simon Wisenthal Center, sebuah
yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia.
Gus Dur
memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena
Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam
membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang
sempat terpasung selama era orde baru.
Beliau juga
memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Namanya diabadikan sebagai nama
kelompok studi Abdurrahman Wahid Choir Of Islamic Study.
Pada tanggal
21 Juli 2010 meskipun telah wafat beliau memperoleh life time Achievement Award
dalam liputan 6 Award 2010. Penghargaan ini diserahkan langsung kepada Sinta
Nuriyah, Istri Gus Dur.
Pada tanggal
11 Agustus 2006, Gadis Avivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-Aji sebagai
Pejuang Kebebasan Pers 2006.
Gus Dur juga
banyak memperoleh gelar Doktor Kehormatan
(Doktor Honoris Causa) dari lembaga Pendidikan :
- Doktor Kehormatan
bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkaok Thailand. (2001).
- Doktor
Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Managemen dan Ilmu
Humaniora dan Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Perancis Tahun 2000.
- Doktor
kehormatan dari Universitas Chulangkorn, Bangkok, Thailand (2000).

- Dan masih banyak lagi yang lainya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari uraian diatas penulis menyimpulkan
sebagai berikut :
1. Abdurrahman "Addakhil" nama
lengkapnya secara leksikal. Tapi nama "Addakhil" tidak cukup dikenal
dan diganti nama "Wahid" menjadi Abdurrahman Wahid dan lebih dikenal
dengan panggilan Gus Dur.
2. Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 07
September 1940, wafat 30 Desember 2009.
3. Gus Dur menjadi presiden Indonesia yang ke
empat.
4. Kakek Gus Dur bernama KH. Hasyim Asy'ari
(pendiri Nahdlotul Ulama(NU) dan mendirikan Pesantren Tebuireng, di Jombang,
Jawa Timur).
B.
Saran
1. Saya berharap pembaca dapat mengetahui dan
mengenal lebih dalam riwayat hidup dan penghargaan-penghargaan yang
diperolehnya.
2. Saya berharap pembaca bisa memahaminya dan
tidak kecewa, terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Muzadi, Abdul Muchith.2006. "NU dalam
Perspektif Sejarah dan Ajaran". Surabaya : Khalista.
Amroji dan Nur Zahid.2009. "Ke-NU-an
SMP/MTs Kelas VII". Semarang : Pimpinan Wilayah Lembaga Pedidikan Ma'arif
NU.
www.gusdur.net