BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Penyusunan
karya tulis ini dibuat untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk mengikuti
UAN/UAS di MTs Walisongo Sidowangi Kajoran Magelang tahun pelajaran 2013/2014.
Karya tulis
ini berisi tentang sejarah berdirinya NU adalah organisasi yang didirikan oleh
tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses
pendirian jamiyah Nahdlotul Ulama (NU) yaitu Kyai Wahab Hasbullah (Surabaya
asal Jombang), kyai Hasyim Asy'ari (Jombang) dan Kyai Cholil (Bangkalan).
Mujammil Qomar, penulis buku "NU Liberal : dari Tradisionalisme
Ahlussunnah ke Universalisme Islam". Melukiskan peran ketiganya sebagai
berikut Kia Wahab sebagai pencetus ide, Kyai Hasyim, Kyai Cholil dan
tokoh-tokoh ulama lainya dalam proses berdirinya Nahdlotul Ulama.
B.
Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas,
penulis mencoba untuk merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam karya
tulis ini.
1. Bagaimana Sejarah Berdirinya NU di
Indonesia ?
2. Apa saja usaha-usaha yang dilakukan oleh
KH. Hasyim Asy'ari dalam mengembangkan NU di Indonesia ?
C.
Tujuan Penulisan.
Setiap penulis tentu tidak lepas dari
tujuan yang diharapkan. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam menulis karya
tulis ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Sebagai salah satu syarat pengambilan
raportkenaikan kelas tahun 2013.
2. Sebagai salah satu syarat mengikuti
UNAS/USEK.
3. Mengajak masyarakat agar lebih mengenal
tentang sejarah berdirinya NU dan Usaha-usaha yang dilakukan KH. Hasyim Asy'ari
dalam mengembangkan Organisasi NU di Indonesia.
D.
Metode Pengumpulan Data.
Sebelum menganalisa permasalahan dan
menyajikanya dalam karya tulis. Penulis terlebih dahulu mengumpulkan data-data
dengan cara :
1. Observasi.
Yaitu cara pengumpulan data secara langsung dengan
suatu objek permasalahan yang akan diteliti.
2. Studi pustaka.
Yaitu cara kerja dengan mencari data-data lewat buku-buku
dan suumber tertulis yang berhubungan dengan permasalahan.
E.
Manfaat Penulisan
Semoga
dengan karya tulis ini masyarakat lebih mengenal tentang sejarah berdirinya NU
dan usaha KH. Hasyim Asy'ari dalam mengembangkan organisasi NU di Indonesia dan
semoga masyarakat lebih mengenal dan memahaminya. Dan siswa-siswi dapat lebih
banyak mengetahui tentang sejarah berdirinya NU dan usaha KH. Hasyim Asy'ari
dalam mengembangkan organisasi NU di Indonesia.
F.
Sistematika Penulisan
Sitematika karya tulis ini dapat meliputi 3
bab yaitu : Bab I Pendahuluan meliputi : latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penulisan, metode pengumpulan data, manfaat penulisan dan
sistematika penulisan. Bab II Pembahasan meliputi : asal-usul sunan Bonang,
bijak dalam berdakwah, karya sastra, kuburanya ada dua.
Bab III
berisi : Kesimpulan dan saran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Berdirinya NU.
Ada tiga
orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian
Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab Chasbullah (Surabaya asal
Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan Kiai Cholil (Bangkalan). Mujammil
Qomar, penulis buku “NU Liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke
Universalisme Islam”, melukiskan peran ketiganya sebagai berikut Kiai Wahab
sebagai pencetus ide, Kiai Hasyim sebagai pemegang kunci, dan Kiai Cholil
sebagai penentu berdirinya.
Keresahan
Kiai Hasyim
Bermula dari keresahan batin yang melanda
Kiai Hasyim. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan
nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi
para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang
sangat luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai
pondok pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan
sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih
perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.
Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu
muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada
tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret
pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai
lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait
dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum
diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka Kiai Wahab
merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh
ulama pesantren yag sangat berpengaruh di Jawa Timur.
Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah,
hati Kiai Hasyim resah. Gelagat inilah yang nampaknya “dibaca” oleh Kiai Cholil
Bangkalan yang terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (mukasyafah).
Dari jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim.
Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan hati
yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil salah
seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal sebagai KH.
As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung cucunya sendiri.
Tongkat “Musa”
“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan
dan berikan tongkat ini kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik,
Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat itu.
“Setelah membeerikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut
kepada Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat
Thaha ayat 17-23.
Allah berfirman: ”Apakah itu yang di
tangan kananmu, hai musa? Berkatalah Musa : ‘ini adalah tongkatku, aku
bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku
ada lagi keperluan yang lain padanya’.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia,
wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor
ular yang merayap dengan cepat”, Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan
takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu
ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai
mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari
tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.”
Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai
Cholil memberikan dua keeping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos
ke Jombang. Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui
Kiai Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya erat-erat.
Meski sudah dibekali uang, namun As’ad memilih
berjalan kaki ke Jombang. Dua keeping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia
simpan di sakunya sebagai kenagn-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil
itu teramat berharga untuk dibelanjakan.
Sesampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim.
Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad merupakan
utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan Kiai Hasyim, As’ad
segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil
untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad seraya menyerahkan
tongkat.
Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan
penuh perasaan. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa.
Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa
masih ada pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!”
jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.
Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan
kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak keberatan
apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk mendirikan Jamiyyah.
Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah terus dimatangkan. Meski merasa
sudah mendapat lampu hijau dari Kiai Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta
mewujudkan niatnya untuk mendirikan jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah
dengan para kiai lainnya, terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi
Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil
Bangkalan) dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin
Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan.
Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab
untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera
berangkat ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab
segeraa menuju kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai
Wahab langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan
seksama penuturan Kiai Wahab yang menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai
Nawawie tidak serta merta pula langsung mendukungnya, melainkan memberikan
pesan untuk berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri
itu supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak pakai
uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai Nawawi.
Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan
tongkat sampai dengan perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah rupanya
berjalan cukup lama. Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil
menyerahkan tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak
kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, maskih tetap
dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya
sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam.
Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di
kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan.
“Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad
sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya
Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik
pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja,
tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim
lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah.
Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan
jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak
menggagalkannya.
Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang
memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti
terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki
arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa
(tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma
Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan
kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang. Setelah menerima tasbih dan
amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski
demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925
M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada
16 Rajab 1344 H, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama
Nahdlatul Ulama (NU).
Setelah para ulama sepakat mendirikan
jamiyyah yang diberi nama NU, Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Nashir untuk
membuat lambangnya. Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat
gambar bumi dan bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan
menghadap Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya.
“Gambar ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri
untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa
gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh
Kiai Hasyim diminta membuat gambar lambang NU. Setelah saya buat gambarnya,
Kiai Hasyim meminta saya untuk sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih
lanjut,” papar Kiai Ridhwan seraya menyerahkan gambarnya.
Setelah memandang gambar lambang NU secara
seksama, Kiai Nawawie memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar
bumi dan sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.”
Selain itu, Kiai Nawawie jug a meminta supaya tali yang mengikat gambar bumi
ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat,
sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie.
“Barangsiapa mengaku
dirinya sebagai wali tetapi tanpa kesaksian mengikuti syariat Rasulullah SAW,
orang tersebut adalah pendusta yang membuat perkara tentang Allah SWT.”
Lebih tegas beliau menyatakan:
“Orang yang mengaku
dirinya wali Allah SWT, orang tersebut bukanlah wali yang sesungguhnya
melainkan hanya wali-walian yang jelas salah sebab dia mengatakan sir al-khushusiyyah (rahasia-rahasia khusus) dan dia
membuat kedustaan atas Allah Ta’ala.”
Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami
bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah
menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini,
melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut
dikenal dengan “Kebangkitan Nasional”. Semangat kebangkitan memang terus
menyebar ke mana-mana – setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan
ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai
organisasi pendidikan dan pembebasan.
Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme,
merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan,
seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun
1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan “Nahdlatul Fikri”
(kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan
keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar,
(pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki
perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar,
selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang
berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
Berangkan komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional
dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih
mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka
setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk
membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16
Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim
Asy’ari sebagai Rais Akbar.
Untuk menegaskan prisip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasyim
Asy’ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan
kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian
diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga
NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.
B.
Usaha KH. Hasyim Asy'ari dalam
mengembangkan Organisasi NU di Indonesia.
1.
Dibidang Agama, melaksanakan
dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat
persatuan dan persaudaraan.
2.
Dibidang pendidikan, menyelenggarakan
pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membantuk muslim yang
bertaqwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas. Hal ini terbukni dengan lahirnya
lembaga-lembaga pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbegai
daerah khususnya di pulau Jawa.
3.
Dibidang Sosial Budaya,
mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai
keislaman dan kemanusiaan.
4.
Dibidang ekonomi, mengusahakan
kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan dengan mengutamakan berkembangnya
ekonomi rakyat. Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan badan keuangan lain
yang telah terbukti membantu masyarakat.
5.
Mengembangkan usaha lain yang
bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik
bagi masyarakat.
C.
Biografi KH. Hasyim Asy'ari
Sejak anak-anak, bakat
kepemimpinan dan kecerdasan KH Hasyim Ashari memang sudah nampak. Di antara
teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia
sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang
dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana
memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi
santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren
Langitan, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan
berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan,
Bangkalan di bawah asuhan Kyai Cholil.
KH Hasyim Asyari belajar
dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin
Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba
ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo,
Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren
Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo. Tak lama di sini,
Hasyim pindah lagi di Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh
Kyai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam
yang diinginkan. Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan
alim dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di
Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada
pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan
juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah
satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya
berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim
kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal. Tahun 1893, ia
berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun
dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi,
Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh
Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad
As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi..
Pendiri Nahdlotul Ulama
Tahun 1924, kelompok diskusi Taswirul Afkar ingin mengembangkan
sayapnya dengan mendirikan sebuah organisasi yang ruang lingkupnya lebih besar.
Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang dimintai persetujuannya, meminta waktu
untuk mengerjakan salat istikharah, menohon petunjuk dari Allah. Dinanti-nanti
sekian lama, petunjuk itu belum datang juga. Kyai Hasyim sangat gelisah. Dalam
hati kecilnya ingin berjumpa dengan gurunya, KH Kholil bin Abdul Latif,
Bangkalan. Sementara nun jauh di Bangkalan sana, Kyai Khalil telah mengetahui
apa yang dialami Kyai Hasyim. Kyai Kholil lalu mengutus salah satu orang
santrinya yang bernama As’ad Syamsul Arifin (kelak menjadi pengasuh PP
Salafiyah Syafiiyah Situbondo), untuk menyampaikan sebuah tasbih kepada Kyai
Hasyim di Tebuireng. Pemuda As’ad juga dipesani agar setiba di Tebuireng
membacakan surat Thaha ayat 23 kepada Kyai Hasyim.
Struktur NU
1. Pengurus Besar (tingkat Pusat)
2. Pengurus Wilayah (tingkat Propinsi)
3. Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota)
4. Majelis Wakil Cabang (tingkat Kecamatan)
5. Pengurus Ranting (tingkat Desa/Kelurahan)
Untuk tingkat Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis
Wakil Cabang, setiap kepengurusan terdiri dari:
1. Mustasyar (Penasehat)
2. Syuriah (Pimpinan Tertinggi)
3. Tanfidziyah (Pelaksana Harian)
Untuk tingkat Ranting, setiap kepengurusan terdiri
dari:
1. Syuriaah (Pimpinan tertinggi)
2. Tanfidziyah (Pelaksana harian)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Nahdlotul Ulama adalah sebuah organisasi
masa Islam yang terbesar di Indonesia dan didirkan oleh tiga orang tokoh ulama
yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyah Nahdlotul
Ulama' (NU) yaitu Kyai Wahab Hasbullah (Surabaya asal Jombang) Kyai Hasyim
Asy'ari (Jombang) dan Kyai Cholil (Bangkalan).
2. Usaha Kyai Hasyim Asy'ari dalam
mengembangkan organisasi NU di Indonesia meliputi : Bidang Agama, Pendidikan
Sosial Budaya, ekonomi, dan mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi
masyarakat luas.
B.
Saran
1. Sebaiknya masyarakat Indonesia lebih
mengenal dan mencari tentang masalah NU dan mencari tentang pendiri NU dan
mencontoh prilaku dan mengamalkan ajaranya supaya menambah iman kita semua.
2. Dan kami membuat karya tulis ini untuk
diletakkan diperpustakaan agar dipelajari oleh adik kelas VII dan kelas VIII.
DAFTAR PUSTAKA
Amrozi dan Nur Zahid, 2009,
"Ke-NU-an" , Semarang : Pimpinan Wilayah Lembaga Pedidikan Ma'arif
NU.
As'ad Mahrus, dkk. 2009. Ayo Mengenal
Sejarah Kebudayaan Islam untuk MTs /SMP Islam Kelas IX. Jakarta : Erlangga.
No comments:
Post a Comment